Monjali Musem Berbentuk Kerucut Daya Tarik Unik di Jogja

jogjakonstruksi.com – Monjali museum berbentuk kerucut daya tarik unik di Jogja. Atap berbentuk kerucut menjadi sisi unik yang membedakan Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali) dari bangunan museum pada umumnya, sekaligus merepresentasikan filosofi dan nilai historis perjuangan bangsa Indonesia di Yogyakarta.

Monjali Semangat Perjuangan dan Gaya Arsitektur Lokal Jogja

Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali) di Yogyakarta tak hanya menyimpan berbagai koleksi bersejarah perjuangan kemerdekaan. Museum ini juga memiliki daya tarik tersendiri dari sisi arsitektur bangunan secara mandiri ataupun siteplan. Salah satu yang paling mencolok adalah atap bangunannya, yang berbentuk kerucut dan membulat berwarna putih yang dapat kita lihat dari ring road.

Sumber: Monumen Jogja Kembali

Bentuk kerucut tersebut bukan sekadar estetika visual, melainkan mengandung makna filosofis arsitektur. Struktur bangunan ini melambangkan semangat perjuangan yang mengarah pada satu titik tujuan yaitu kemerdekaan. Kerucut bulat juga merepresentasikan gunung, yang dalam budaya Jawa Jogja sering dikaitkan dengan tempat yang sakral dan penting untuk leluhur.

Ibnu, yang pernah berkunjung ke Monjali untuk mata kuliah studio berkata, ujung yang mengerucut dan menjadi satu titik adalah makna untuk menyatukan semangat uang kemerdekaan dan membuat seluruh bangsa memiliki satu tujuan yang sama. “Desain atap, memang dimaksudkan sebagai filosofi perjuangan dan tujuan bangsa pada satu titik yang sama diujung kerucutnya,” jelas Ibnu.

Bentuk Arsitektur Lambang Fungsi Sejarah dan Estetika

Selain nilai simbolis, desain kerucut ini juga memiliki fungsi teknis fiskal. Bentuknya memudahkan aliran air hujan turun langsung ke bawah, serta mendukung pencahayaan dan ventilasi alami di dalam museum. Tak heran, banyak pengunjung yang menjadikan museum Monjali bukan hanya sebagai destinasi wisata edukatif, tetapi juga spot favorit untuk berswafoto karena keunikan bentuk fasad bangunannya dan sitenya.

Museum Monjali sendiri dibangun untuk mengenang peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 dan perjuangan rakyat Yogyakarta dalam mempertahankan kemerdekaan NKRI. Pun dengan, tambahan elemen arsitektur ikonik seperti atap kerucut ini yang membuat unik. Monjali tampil sebagai monumen yang tak hanya kaya akan sejarah, tapi juga estetika budaya lokal Yogyakarta.

Monjali museum berbentuk kerucut daya tarik unik di Jogja. Keunikan ini semakin menegaskan bahwa Monjali bukan sekadar tempat menyimpan sejarah, melainkan juga simbol perlawanan, harapan, dan kekuatan identitas nasional. Saat ini, Monjali menjadi salah satu bangunan cagar budaya, dan menjadi simbol kota Jogja. Lagi, keberadaan taman pelangi di sekitar Monjali menjadi titik temu masyarakat sekitar.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Anggun Tradisional Bangsal Srimanganti Arsitektur Keraton Jogja

jogjakonstruksi.com – Anggun tradisional Bangsal Srimanganti arsitektur Keraton Jogja. Bangsal Srimanganti di Keraton Yogyakarta tidak hanya menjadi saksi bisu peristiwa-peristiwa penting kerajaan. Bangsal ini juga memperlihatkan keanggunan arsitektur tradisional Jawa yang kaya akan filosofi, simbolisme, dan estetika. Dengan struktur joglo yang megah, ukiran halus, serta tata ruang yang sarat makna budaya, bangunan ini mencerminkan kejayaan masa. Bangunan ini juga sekaligus menjadi simbol lokal yang abadi berseri hingga masa kini.

Khas Arsitektur Menawan Jogja Masih Berdiri Kokoh

Bangsal Srimanganti, merupakan gedung utama di kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Bangunan ini dahulu difungsikan sebagai tempat raja menerima tamu agung, pejabat tinggi, maupun utusan dari kerajaan atau negara sahabat Keraton Yogyakarta. Meski kini fungsinya lebih banyak sebagai tempat pergelaran budaya atau penyambutan tamu kehormatan, aura kebesaran, keanggunan, dan kesejahteraan arsitektur masa lalu tetap kuat.

Sumber: kratonjogja,.id

Konstruksi utama Bangsal Srimanganti menggunakan sistem gaya joglo. Joglo merupakan sebuah bentuk arsitektur tradisional khas Jawa yang dikenal dengan atap bertumpang dan tiang kolom saka guru yang kokoh. Tiang kayu jati yang menjulang menopang atap bangsal tanpa dinding di sekelilingnya, menciptakan kesan terbuka namun tetap gedhe. Penggunaan teknik sambungan kayu tanpa paku menegaskan keterampilan luar biasa para pekerja zaman dahulu.

Ornamen Simbol Kekuasaan Fungsi dan Makna Mendalam Arsitektur Jogja

Keindahan bangsal ini juga terletak pada detail ukiran dan ornamen pada sekitar bangunan. Ornamen yang menghias bagian langit-langit, balok, dan tiang bangunan joglo ini. Motif-motif seperti lung-lungan, mekar manggar, hingga wajikan bukan sekadar hiasan, tetapi mengandung nilai filosofis tentang kehidupan, kebijaksanaan, dan keharmonisan antara manusia Jogja dan alam. Warna yang digunakan pun tidak sembarangan untuk mewujudkan warna dan kesan arsitektur bangunan ini. Kombinasi hijau, emas, dan merah marun mencerminkan simbol-simbol spiritual dan kekuasaan, mirip dengan Masjid Gedhe Kauman.

Sebagai bagian inti dari pusat kekuasaan kerajaan, Bangsal Srimanganti dirancang untuk menunjukkan wibawa dan status Sultan Hamengkubuwono. Posisi bangsal yang terletak sejajar dengan jalur sumbu filosofis keraton, yaitu garis imajiner dari Gunung Merapi ke Laut Selatan, memperkuat makna spiritualnya Jogja. Tata letak ini mencerminkan kosmologi Jawa yang melihat manusia sebagai bagian dari tatanan semesta makna Lor dan Kidul.

Lestari Sustainability Architecture dalam Budaya Jogja Bangunan Srimanganti

Arus modernisasi kian ganas, upaya pelestarian bangunan bersejarah seperti Bangsal Srimanganti menjadi vital. Keraton Yogyakarta bersama, ndalem, dan pemerintah terus menjaga keaslian struktur dan ornamen bangunan, sambil menjadikannya sebagai tempat edukasi publik tentang nilai-nilai budaya Jawa. Setiap tahunnya, ribuan wisatawan lokal maupun mancanegara datang mengagumi keindahan bangunan ini, sekaligus menyerap kearifan budaya yang terkandung di dalamnya.

Anggun tradisional Bangsal Srimanganti arsitektur Keraton Jogja. Bangsal Srimanganti bukan hanya bangunan fisik belaka, melainkan juga representasi dari jiwa budaya Jawa yang halus, penuh tata krama, dan sarat makna Jawi. Keanggunannya tidak hanya terpancar dari bentuknya, tetapi dari nilai luhur yang terpatri wangi dalam setiap detail arsitekturnya. Dalam diamnya, dia berbicara tentang warna, sejarah, kebijaksanaan, dan keindahan Jawa yang kekal. Dalam riuknya, dia menjadi saksi, bukti, dan bahan ajar edukasi semua pelajar dan akademisi di Indonesia.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Pesona Arsitektur Kampung Ketandan di Jogja Harmoni Tionghoa Jawa

jogjakonstruksi.com – Pesona arsitektur kampung ketandan di Jogja harmoni kehangatan. Hiruk-pikuk Malioboro yang menjadi ikon wisata Jogja, terdapat sebuah kampung kecil yang menyimpan jejak harmonisasi budaya Tionghoa dan Jawa. Kampung Katandan, berlokasi tidak jauh dari Pasar Beringharjo, menawarkan pesona arsitektur hasil akulturasi dua budaya yang telah hidup berdampingan selama ratusan tahun di Jogja.

Paduan Limasan Jawa Pada Kampung Ketandan Relasi Arsitektur dan Budaya

Tak sepopuler kawasan Pecinan lainnya, Kampung Katandan merupakan salah satu permukiman tertua masyarakat Tionghoa di Jogja. Bukan hanya mengukir sejarah, tetapi juga terselip harmoni budaya Tionghoa dan Jawa yang istimewa. Wujud secara kasat mata dalam bentuk arsitektur bangunan, simbol-simbol budaya, hingga pola hidup pengguna ruang.

Sumber: getlost.id

Sepanjang gang-gang sempit Kampung Katandan, pengunjung akan menemui rumah-rumah bergaya limasan khas Jawa. Atap limasan Jawa ini berdiri berdampingan dengan bangunan berornamen khas Tionghoa, seperti atap melengkung dengan hiasan naga, elemen merah dengan lambang, hingga altar. Tak hanya itu kadang elemen khas Tionghoa ini juga ditemukan dipajang berdampingan dengan meja “sesajen” khas Jawa.

Dari Arsitektur Hingga Kepercayaan dan Budaya

Keunikan Kampung Katandan tidak hanya berhenti pada sisi arsitekturnya. Setiap perayaan tahun China Imlek, masyarakat Katandan turut menggelar kirab budaya. Kirab budaya melibatkan warga lintas etnis dan geografis. Kegiatan ini menampilkan barongsai, gamelan, hingga wayang yang menjadi simbol perpaduan budaya Jawa Jogja dan Tionghoa.

Herat wartawan senior berpendapat, akulturasi harmoni di Kampung Katandan mulai menguat pada abad ke-19, saat banyak perantau Tionghoa mukim di wilayah tersebut dan menikah dengan warga Jogja. Pemerintah kolonial saat itu juga memberikan izin kepada komunitas Tionghoa untuk membangun tempat ibadah dan sekolah khusus di Ketandan dulu, yang turut mempercepat proses integrasi sosial dan budaya. “Perantau diabad ke-19 dan menikah dengan orang Jogja, lalu mendirikan sekolah dan sarana peribadatan di sana,” jelas Herat.

Harmoni Harum di Jogja Ajak Wisatawan Keindahan Bermula dari Arsitektur

Dewasa ini Katandan mulai menarik perhatian wisatawan dan peneliti dari berbagai Universitas. Beberapa bangunan telah direvitalisasi dan dijadikan destinasi edukasi dan budaya. Pemerintah kota Yogyakarta pun mulai melirik potensi kampung ini sebagai kawasan heritage yang bisa memperkaya narasi harmoni lintas budaya atau multikulturalisme di Jogja.

Katandan adalah bukti bahwa perbedaan bisa melahirkan harmoni yang indah. Kini, banyak arsitek yang tengah melakukan penelitian di kawasan tersebut. Bukan hanya tentang estetika bangunan, tetapi juga tentang nilai hidup bersama. Lebih dari itu, ini merupakan harapan besar bagi masyarakat dunia untuk saling memahami tanpa harus berkomunikasi verbal.

Pesona arsitektur Kampung Ketandan di Jogja harmoni kehangatan. Katandan mengajarkan bahwa keberagaman bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Ketandan menunjukkan sesuatu yang bisa dirayakan bersama tanpa melihat warna. Memahami tantangan zaman, kampung kecil ini tetap berdiri kokoh sebagai simbol persatuan dan warisan budaya yang tak ternilai di Jogja.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Edge Trim Tidak Populer di Jogja Alternatif Sponengan Modern

jogjakonstruksi.com – Edge trim tidak populer di jogja alternatif sponengan modern. Meski populer di industri furnitur modern, penggunaan edge trim masih jarang ditemukan di rumah-rumah Jogja. Model sambungan seperti sponengan lebih diminati pada penerapan gaya arsitektur tradisional dan teknik pertukangan lokal. Namun, dengan perkembangan desain interior modern, muncul alternatif lain yang mulai dipertimbangkan.

Edge Trim Geser Budaya Berdesain di Jogja

Jogja dikenal memiliki arsitektur tradisional yang kuat, mengedepankan prinsip estetika beton dan fungsi dari kayu alami. Salah satu teknik yang masih dominan digunakan oleh tukang lokal yaitu sponengan teknik, membuat alur sambungan yang rapi tanpa bantuan bahan tambahan.

Sumber: Eezee

Edge trim tidak populer di Jogja alternatif sponengan modern. Di tengah menjamurnya rumah bergaya minimalis, muncul pertanyaan jamak apakah edge trim bisa menjadi alternatif atau menggantikan metode sponengan. Teguh selaku pekerja Doma menjelaskan untuk rumah tradisional edge trim jarang digunakan dan lebih memilih tukang batu, atau tukang kayu untuk membuat sambungan atau sudutnya pun juga dengan kitchen set dan interior. “Di proyek perumahan konvensional atau rumah adat, edge trim hampir tidak pernah digunakan, tetapi pada interior rumah baru, terutama kitchen set dan furnitur dari MDF atau HPL, kadang klien minta pakai edging untuk hasil rapi.” jelas Teguh.

Kelebihan Edge Trim Dewasa Ini

Edge trim memang banyak digunakan di industri manufaktur interior dan arsitektur modern. Detail interior arsitektur khususnya untuk menutupi tepi multipleks atau MDF agar terlihat bersih dan tidak tajam. Namun, penerapannya di rumah-rumah Jogja tergolong minim karena ketidaksesuaian dengan estetika lokal, keterbatasan alat pemasangan seperti mesin edging, dan kekhawatiran terhadap daya tahan lem di iklim tropis.

Sebagai alternatif sponengan, beberapa tukang dan arsitek interior kini mulai melirik metode lain di antaranya adalah laminasi dengan finishing menyeluruh menggunakan HPL atau veneer yang menutup seluruh permukaan termasuk sisi. Lainnya, sambungan finger joint atau biscuit joint, teknik modern yang tetap mempertahankan nilai estetika kayu. Terakhir, profil cetakan atau lis kayu yang menutup bagian tepi sekaligus menambah nilai dekoratif.

Pandangan Ahli Mengenai Edge Trim

Arsitek Doma, Rycko, mengatakan bahwa permintaan akan edge trim memang meningkat di kalangan milenial, tetapi tetap terbatas pada elemen non-struktural seperti rak gantung atau lemari dapur. “Jogja punya ciri khas. Kalau klien ingin rumah yang bernuansa lokal, edge trim biasanya tidak kami tawarkan. Tapi untuk furnitur custom modern, itu bisa jadi solusi cepat dan praktis,” ujar Rycko.

Dengan semakin beragamnya gaya desain rumah di Jogja, teknik-teknik pertukangan pun ikut berevolusi. Meski edge trim belum menjadi pilihan utama, kehadirannya sebagai alternatif modern tetap membuka ruang baru dalam ranah desain interior lokal. Modernisasi dan teknologi juga diharuskan untuk mengenal budaya lokal agar penerapannya akan diterima oleh masyarakat yang masih menjunjung tinggi norma dan budaya.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Rumah A-Frame Mulai Diminati Alternatif Hunian Estetik di Jogja

jogjakonstruksi.com – Rumah A-frame mulai diminati alternatif hunian estetik di Jogja. Rumah bergaya A-frame kini mulai menarik perhatian masyarakat Indonesia, terutama di kawasan wisata dan sub urban. Menyajikan desain segitiga yang khas, ringan biaya pembangunan, dan ramah lingkungan. Generasi muda dan pelaku usaha properti di Jogja semakin gencar untuk mengadopsi.

Pergesaran Tren Generasi Muda dan Negara Maju Dalam Estetika Hunian

Tren arsitektur rumah A-frame, yang populer di negara-negara maju dengan empat musim, mulai berkembang di berbagai wilayah Indonesia. Bentuk atap segitiga yang menyatu dari bawah hingga ke nok membuat rumah A-frame terlihat menarik dan estetik. Tak hanya menarik dari sisi tampilan, desain ini juga menawarkan efisiensi dalam penggunaan material dan energi general.

Sumber: Getty Images/urfinguss

Di daerah-daerah wisata seperti Yogyakarta, Bandung, dan Bali, rumah A-frame mulai diminati. Bangunan yang digunakan sebagai vila, glamping, atau guest house. Dengan struktur yang relatif mudah dibangun dan biaya konstruksi yang lebih rendah dibandingkan rumah konvensional, rumah A-frame menjadi pilihan menarik bagi pengusaha penginapan skala kecil hingga menengah.

Menurut Ibnu, desain A-frame cocok dengan iklim tropis Indonesia karena memungkinkan ventilasi silang (cross ventilation) yang baik. Cross ventilation memanfaatkan angin muson negara tropis seperti Jogja dan kemiringan atap yang membantu mengalirkan air hujan dengan lancar. “Ya butuh sedikit penyesuaian material, seperti penggunaan kayu dan pelindung panas di bagian bawah atap, rumah A-frame ini bisa sangat ideal untuk wilayah tropis,” jelas Ibnu.

Tantangan A-Frame di Jogja dan Ahli dalam Penerapannya

Tak hanya untuk komersial, sejumlah keluarga muda di sub urban juga mulai tertarik membangun rumah bergaya A-frame. Gaya hidup minimalis, keinginan untuk lebih dekat dengan alam, serta meningkatnya kesadaran terhadap desain berkelanjutan menjadi faktor pendorong utama.

Rumah A-frame mulai diminati alternatif hunian estetik di Jogja. Namun demikian, A-frame juga memiliki sisi minus yang cukup menarik. Salah satunya adalah kebutuhan lahan yang cukup luas agar desain rumah A-frame bisa optimal, serta keterbatasan ruang di bagian dalam akibat bentuk segitiga yang menyempit ke atas. Meski begitu, arsitek dan pengembang mulai menemukan solusi dengan menambahkan mezanine atau memperluas bagian dasar bangunan.

Dengan potensi besar, di sektor pariwisata dan perumahan alternatif maupun subsidi, rumah A-Frame diperkirakan akan terus tumbuh di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Desain sederhana tetapi tetap fungsional ini menjadi simbol baru dari gaya hidup modern yang berpadu dengan kesadaran lingkungan.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Jejak Isochrone Cagar Budaya Arsitektur Landhuis Kotabaru Jogja

jogjakonstruksi.com – Jejak isochrone cagar budaya arsitektur Landhuis Kotabaru Jogja. Kawasan Kotabaru Yogyakarta, kini dilengkapi peta isochrone wisata cagar budaya. Sebuah inovasi berbasis durasi tempuh yang membantu wisatawan merancang kunjungan ke cagar budaya bersejarah dengan lebih efisien dan menarik. Situs berstatus cagar budaya ini adalah bangunan Belanda dengan kemegahan arsitekturnya. Arsitektur Landhuis Kotabaru, bangunan peninggalan era kolonial di kawasan cagar budaya Jogja. Bangunan dengan desain kolonial yang menyimpan nilai historis dan arsitektural yang masih lestari sampai saat ini.

Peta Isichrone Kemegahan Kotabaru dan Arsitektur Landhuis

Peta isochrone di Kotabaru menampilkan zona waktu tempuh dengan durasi variasi 5, 10, hingga 15 menit. Jarak tempuh ini dari titik-titik bersejarah dan bangunan Landhuis seperti Gedung Bank Indonesia lama, Gereja Kotabaru, SMA 3 Jogja, SMP 5 Jogja, dan SMA BOPKRI 1. Alih-alih mengukur jarak, peta ini memvisualisasikan seberapa jauh wisatawan dapat menjelajah dalam waktu tertentu, baik dengan berjalan kaki maupun bersepeda, sehingga perjalanan menjadi lebih terencana.

Sumber: Jitu Property

Arsitektur Landhuis merupakan bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang berada di kawasan Kotabaru, Jogja. Kotabaru, merupakan kawasan yang ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah daerah. Bangunan-bangunan ini menampilkan gaya arsitektur Indische Empire Style, perpaduan antara arsitektur klasik Eropa dan penyesuaian iklim tropis.

Dengan peta isochore di Kotabaru membantu wisatawan pejalan kaki ataupun mode lain untuk menikmati situs cagar budaya secara efisien. Desain peta inovatif ini merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, komunitas heritage, dan pengembang peta digital lokal. Pemetaan jalur pedestrian yang aman dan menghubungkan titik-titik cagar budaya secara baik dan benar berdasarkan waktu tempuh, bukan jarak fisik secara terukur.

Pariwisata Berkelanjutan dan Peran Pemerintah

Jejak isochrone cagar budaya arsitektur Landhuis Kotabaru Jogja. Bangunan yang dibangun pada awal abad ke-20, Landhuis awalnya merupakan kediaman pejabat tinggi kolonial di Jogja. Ciri khasnya terlihat pada bentuk simetris, kolom-kolom tinggi, ventilasi besar, serta penggunaan material lokal seperti batu bata dan kayu jati. Keberadaan taman luas di depan bangunan memperkuat nuansa rumah peristirahatan ala Eropa.

Lalu, dengan navigasi dan informasi waktu yang jelas, wisatawan merasa lebih nyaman dan bebas menjelajah. Sementara itu, pelaku usaha kecil seperti kedai kopi, toko suvenir, dan pemandu lokal di Kotabaru mulai merasakan dampak positif dari meningkatnya alur kunjungan yang lebih merata secara isochrone. Konsep ini juga mendukung pariwisata berkelanjutan dan melestarikan Kotabaru sebagai cagar budaya daerah.

Pemerintah berencana memperluas penerapan konsep isochrone ini ke kawasan lain seperti Kotagede dan Kraton, sambil mengintegrasikan elemen edukatif seperti cerita sejarah dan augmented reality. Diharapkan pendekatan ini mampu menarik generasi muda untuk lebih mengenal dan mencintai warisan budaya lokal.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Bangun 6 Lantai DPRD Jogja Usung Gaya Arsitektur Jawa

jogjakonstruksi.com – Bangun 6 lantai DPRD Jogja usung gaya arsitektur Jawa. Pemerintah Kota Yogyakarta, tengah membangun gedung baru DPRD Kota Yogyakarta. Gedung setinggi enam lantai dengan mengusung konsep arsitektur khas Jawa dan Yogyakarta. Proyek pembangunan ini menjadi menarik karena memadukan fungsi modern gedung perkantoran dengan nilai-nilai budaya lokal khas Jawa.

Gedung 6 Lantai Paduan Modern dan Gaya Lokal Jawa Jogja

Gedung DPRD baru ini akan menggantikan bangunan gedung lama yang dinilai sudah tidak laik fungsi menurut internal DPRD. Guna gedung baru ini untuk mendukung kinerja para anggota dewan yang semakin baik dan perbaikan fasilitas gedung. Terdiri dari enam lantai dan dilengkapi fasilitas modern, desain gedung tetap menampilkan elemen arsitektur Jawa Jogja. Elemen termasuk adalah seperti pendopo, motif batik pada fasad, dan atap bergaya joglo.

Sumber: detikcom

Dikutip dari detik.com (11/5), kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Yogyakarta mengatakan, pembangunan gedung ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi kerja legislatif, tetapi juga untuk memperkuat identitas budaya Yogyakarta sebagai kota budaya. “Bukan hanya unutk anggota dewan, tetapi juga untuk meningkatkan identitas dan citra Jogja dalam wujud sebuah gedung dan bangunan,” jelas Kadin PUPR Kota Jogja.

Gaya Lokal gedung DPRD Juga Untuk Warga Jogja

Bangun 6 lantai DPRD Jogja usung gaya arsitektur Jawa. Pembangunan ini direncanakan rampung dalam waktu dua tahun dan menelan anggaran dari APBD senilai lebih dari Rp100 miliar. Gedung ini dijadwalkan rampung pada tahun 2026 dan dapat digunakan pada tahun yang sama nantinya. Gedung ini juga akan dilengkapi ruang publik yang terbuka untuk masyarakat, sehingga tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga ruang publik bagi warga.

Bangunan baru, gedung DPRD ini diharapkan menjadi sebuah ruang publik yang nyaman bagi warga sekitar. Khususnya bagi penduduk sekitar gedung DPRD yang akan menjadi ruang publik selama 24 jam. Harapan masyarakat tentunya, menjadikan ruang publik ini menjadi akses mudah untuk menjalin kedekatan secara fisik maupun non fisik antara masyarakat dan parlemen. Kedekatan ini terasa perlu demi menghidupkan kembali citra wakil rakyat yang selama ini tenggelam selama masa reformasi.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Arsitektur Jengki Gaya Unik Asli Indonesia Cetusan Ir Soekarno

jogjakonstruksi.com – Arsitektur jengki gaya unik Asli Indonesia cetusan Ir Soekarno. Arsitektur jengki merupakan gaya bangunan yang lahir dan hadir di Indonesia pada era 1950-an sebagai simbol kemerdekaan. Digagas oleh Ir Soekarno sebagai identitas baru bangsa yang termasuk adaptasi lokal terhadap modernisasi Barat yang dipadukan dengan semangat nasionalisme Indonesia pasca kemerdekaan pada tahun 1945.

Arsitektur Jengki Kebangkitan kemandirian Bangsa

Arsitektur jengki muncul setelah Indonesia merdeka, ketika para arsitek lokal mulai meninggalkan gaya kolonial Belanda, dengan Ir Soekarno sebagai prakarsa arsiteknya. Gaya ini muncul dan ciptakan gaya baru yang mencerminkan semangat kemandirian bangsa pasca kemerdekaan. Nama “jengki” berasal dari kata “Yankee”, istilah populer untuk orang Amerika. Namun, gaya ini bukan tiruan penuh dari arsitektur Amerika, bukan dari bagaimana rumah di Amerika didesain. Sebaliknya, arsitektur jengki merupakan adaptasi dan interpretasi lokal terhadap modernisme dengan karakteristik unik yang hanya berkembang di Indonesia.

Arsitektur jengki memiliki ciri khas yang sangat unik bak adaptasi Belanda dan Jawa yang kental. Ciri khas gaya jengki terlihat dari atap miring tak simetris, bentuk geometris yang berani, garis-garis tajam sponengan, dan penggunaan ornamen sederhana tetapi tetap ekspresif dan kuat. Gaya ini mencerminkan semangat kebebasan, nasionalisme, dan penolakan terhadap pakem kolonial yang sebelumnya mendominasi lanskap arsitektur di Indonesia sampai 1950-an.

Asli Indonesia Tidak Mungkin Ada di Negara Lain Jengki Gagasan Ir Soekarno

Uniknya, arsitektur jengki ini tidak ditemukan di negara lain karena lahir dari konteks sosial, politik, dan humaniora yang sangat khas Indonesia. Arsitektur jengki, merupakan wujud dari keinginan untuk berdikari secara estetika, sejarah, dan budaya. Ibnu berpendapat bahwa arsitektur jengki adalah sebuah jawaban arsitektural atas kemerdekaan dan kemandirian bangsa. “Arsitektur jengki adalah jawaban arsitek lokal, untuk lepas dari bayang desain kolonial dan identitas kemerdekaan bangsa. Bangunan jengki banyak ditemukan di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, terutama di kawasan perumahan yang dibangun pada era 1950–1960-an.”

Sumber: Jitu Property

Arsitektur jengki gaya unik Asli Indonesia cetusan Ir Soekarno. Di Yogyakarta, arsitektur jengki banyak ditemukan di daerah seperti seputar Universitas Gadjah Mada, Rumah Sakit Bethesda, dan banyak rumah di daerah Kotabarat. Bangunan ini masih banyak dihuni sampai saat ini. Bangunan yang ditinggali makin banyak yang muali direnovasi dan berubah gaya menjadi minimalis, tidak lagi jengki.

Kini arsitektur jengki mulai kembali mendapat perhatian, terutama dari kalangan arsitek muda dan pecinta sejarah yang ingin melestarikan warisan budaya modern Indonesia. Upaya dokumentasi dan restorasi pun dilakukan agar gaya jengki tetap hidup sebagai bagian penting dari identitas arsitektur Indonesia. Jika tidak arsitek lokal yang melestarikan gaya lokal lalu apakah siap jika kekayaan kelokalan kita diadopsi negara lain lagi.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Bangunan Butuhkan Peran Vegetasi Baik Fungsi dan Estetika

Bangunan Butuhkan Peran Vegetasi Baik Fungsi dan Estetika

jogjakonstruksi.com – Bangunan butuhkan peran vegetasi baik fungsi dan estetika. Vegetasi menjadi elemen penting dalam suatu bangunan untuk menambah estetika dan fungsi. Sejalan dengan desain berkelanjutan, penting untuk memilah vegetasi sesuai ruangan, baik terbuka maupun tertutup. Ini merupakan bentuk harmonisasi antara pemilihan vegetasi sesuai fungsi dan perannya.

Sanding Vegetasi untuk Bangunan Ideal Lagi Estetik

Dalam suatu bangunan idealnya terdapat vegetasi, tanaman, ataupun pohon yang saling bersinergi dengan bangunan. Sejak dulu, masyarakat Indonesia mengasosiasikan halaman dengan suatu space yang lekat akan vegetasi tanaman. Tak jarang banyak pohon perindang dan peneduh tumbuh di halaman. Arsitektur Belanda dan Budaya Jawa juga mendorong sinergi antara bangunan dan vegetasi yang ada. Sebut saja Keraton Jogja, di mana bagian dalam keraton selalu lekat dengan vegetasi sawo kecik karena budaya dan sejarahnya. Lalu, Alun-Alun Kidul memiliki pohon beringin ganda di bagian tengahnya. Ini jadi bukti bahwa peran vegetasi dan bangunan tidak bisa dipisahkan karena ikatan kuat sejarah dan budaya.

Bangunan butuhkan peran vegetasi dari segi fungsi maupun estetika. Jika ditinjau dari segi teknis, manfaat vegetasi akan lebih terlihat secara kuantitatif. Di atas sudah Kita bahas mengenai keterlibatan unsur budaya dan sejarah, maka pada bahasan teknis akan lebih memperlihatkan sisi positif secara utilitas. Ini berarti meliputi guna dalam fungsi, kekuatan, dan estetika yang nantinya diterapkan pada sebuah nilai dari hunian.

Vegetasi sejatinya merupakan unsur untuk melengkapi suatu bangunan. Sejak zaman dahulu vegetasi dinilai mampu mengurangi panas akibat paparan sinar matahari. Perannya juga memberikan warna hijau yang memiliki spektrum dingin dalam desain arsitektur. Bangunan akan terasa kurang lengkap apabila halamannya kosong dan tidak memiliki vegetasi apapun. Kehadiran vegetasi sudah menjadi bagian dari suatu bangunan, baik itu skala kecil ataupun skala besar dalam penggunaanya.

Arsitektur Berkelanjutan Jamah Vegetasi Tepat Sasaran Tepat Guna

Dalam desain modern peran vegetasi sangat penting dan krusial. Kehadiranya menjadi elemen untuk menyatukan fungsi estetika pada bangunan serta penopang lingkungan perkotaan. Untuk tetap menjaga keharmonisan antara pembangunan dan lingkungan pemerintah aktif gaungkan RTH (Ruang Terbuka Hijau) yang diatur dalam Peraturan Presiden. Kabupaten Sleman misalnya, RTH yang dianjurkan adalah 30%, ini termuat dalam Perpres nomor 60 tahun 2020 bahwa setiap pengembang harus mengadakan ruang terbuka hijau sebesar 30% dari total lahan yang dibangun.

Dalam desain modern, vegetasi ambil peran penting di fungsi maupun estetika hunian. Fungsi mengharuskan vegetasi menjadi suatu objek yang mengisi kehampaan arsitektur. Misalnya, space atau ruang kosong dapat diisi dengan menggunakan elemen seperti vegetasi. Terlebih jika vegetasi dapat bermanfaat untuk menghasilkan seperti tanaman pangan, bukan hanya memperindah tapi ciptakan hunian yang berdaya pangan. Sementara segi estetika, mengharuskan vegetasi mengisi sudut-sudut ruang yang dirasa menjadi dead space serta memperindah ruangan soal visibilitas.

Jika di halaman vegetasi akan mudah untuk mendapatkan paparan sinar matahari, bagaimana bila di dalam ruangan. Sanditha berpendapat bahwa pemilihan vegetasi dalam ruangan mengutaman tanaman yang tahan kondisi cahaya minim dan tidak memerlukan banyak air. Lalu, vegetasi di luar ruangan sebaiknya memilih vegetasi perindang barat serta vegetasi penghasil pangan. “Untuk dalam ruangan, pilih vegetasi yang tidak butuh cahaya matahari langsung, warna daunnya tidak hijau dan tahan kondisi kurang air,” tutur Sanditha. “Untuk luar ruangan, lebih bebas karena sinar matahari lebih berintensitas tinggi, terlebih jika di luar dimanfaatkan sebagai perindang, mengurangi sinar matahari masuk ke bangunan dan syukur-syukur bisa menghasilkan pangan,” imbuhnya.

Telisik Kaitan Vegetasi dan Konstruksi

Bangunan butuhkan peran vegetasi baik fungsi dan estetika. Manfaat vegetasi dewasa ini tak lagi dipandang sebelah mata sebagai kebutuhan suatu hunian kompleks. Tetapi juga, sebagai kebutuhan arsitektur untuk mengisi celah fungsi dan estetika bangunan, terlebih fungsi ganda yang menambahkan pangan sebagai hasilnya. Peran tenaga profesional dalam bidang konstruksi dan pertanian tentunya dibutuhkan apabila pemanfaatan vegetasi dirasa perlu disempurnakan kembali. Terlebih jika ditujukan untuk menghasilkan pangan mandiri di sektor rumah tangga akan jadi tren untuk beberapa tahun ke depan. Jadi, manfaat vegetasi akan lebih kompleks, bukan hanya sebagai perindang tetapi juga fungsi pangan dan estetika.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Yulia Nurwita Ningrum

Konstruksi Lahan Sempit Kota Jogja Dukung Ruang Lestari Hijau

jogjakonstruksi.com – Konstruksi lahan sempit kota jogja dukung ruang lestari hijau. Di tengah padatnya pemukiman dan lahan sempit menimbulkan pertanyaan atas apa yang harus dilakukan. Lahan sempit membuka peluang untuk beraktivitas secara produktif. Dimulai dari menerapkan ruang lestari hijau secara mandiri, lalu dibarengi dengan kolaborasi lintas disiplin ilmu pertanian dan arsitektur.

Pemetaan Ruang Lestari Hijau di Perkotaan

Konstruksi lahan sempit kota jogja dukung ruang lestari hijau. Lahan sempit yang saat ini dirasakan oleh sebagian besar penduduk perkotaan menjadi masalah krusial. Populasi penduduk yang semakin meningkat menyebabkan kebutuhan hunian semakin meningkat. Lahan sempit di wilayah perkotaan seringkali dianggap sebagai ruang sisa yang tidak memiliki nilai guna. Padahal, jika dimanfaatkan dengan baik, lahan ini dapat menjadi ruang produktif yang bermanfaat secara ekonomi, sosial, dan ekologis.

Sumber: Blog Indorelawan

Terkadang aspek desain dan arsitektural dari hunian tidak sepenuhnya mendapatkan perhatian khusus, sehingga lahan sempit atau sisa di sekitar rumah masih ada. Namun, tak bisa dipungkiri jika lahan sempit tersebut menimbulkan pertanyaan bagi penghuni akan digunakan untuk apa. Pertanyaan ini menjadi masalah yang penting untuk dikulik sebab jika mengacu pada ilmu pertanian, lahan sempit di sekitar bangunan dapat dimanfaatkan sebagai Ruang Lestari Hijau (RLH).

RLH merupakan konsep pemanfaatan lahan secara intensif untuk budidaya komoditas pangan berkelanjutan dengan tujuan utama meningkatkan kemandirian pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap pasar. Pemanfaatan RLH biasanya dilakukan melalui kegiatan pertanian skala kecil seperti menanam sayuran, buah-buahan, hingga tanaman rimpang yang hasilnya dapat dikonsumsi langsung oleh keluarga. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga memberikan ruang interaksi keluarga, mengurangi stres, dan memperkuat kesadaran terhadap pentingnya lingkungan.

Namun, penerapan RLH di lahan sempit tidak bisa dilakukan sembarangan. Diperlukan perencanaan ruang yang matang, termasuk pemilihan jenis tanaman yang sesuai, teknik penanaman, pengelolaan pencahayaan, serta sistem pengairan. Oleh karena itu, dibutuhkan kolaborasi lintas disiplin ilmu, khususnya antara pertanian dan arsitektur.

Kolaborasi Lintas Disiplin Ilmu Pertanian dan Arsitektur

Jika hanya mengandalkan ilmu pertanian saja, tanpa adanya kolaborasi dari tenaga ahli seperti arsitek, penerapan RLH tidak dapat berjalan optimal. Meskipun terdengar sederhana, RLH sebenarnya memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi. Segala pertimbangan itu dimiliki RLH di lahan sempit tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan pertanian. Keberhasilan implementasinya sangat ditentukan oleh pendekatan desain arsitektural yang tepat. Arsitek memiliki peran penting dalam merancang tata ruang yang efisien, mempertimbangkan aspek sirkulasi udara, pencahayaan alami, drainase, serta estetika ruang agar lingkungan tetap nyaman dan fungsional.

Kolaborasi antara ahli pertanian dan arsitek memungkinkan terciptanya desain yang adaptif terhadap keterbatasan lahan. Misalnya, teknik budidaya seperti vertikultur, hortikultura, hingga tanaman buah dalam pot (tabulampot) yang bisa diaplikasikan di dinding rumah bahkan balkon. Pendekatan ini tidak hanya menghemat ruang, tetapi juga memperluas area tanam tanpa mengorbankan fungsi hunian.

Menuju Kota yang Lebih Lestari dan Mandiri

Pengembangan RLH di lahan sempit bisa menjadi langkah ideal apabila diterapkan di perkotaan, terutama kota Jogja. Konsep ini sejalan dengan prinsip urban sustainability yang menekankan pentingnya keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan.

Pemerintah kota Jogja, swasta, hingga masyarakat perlu bersinergi untuk memperluas pemahaman dan implementasi RLH . Edukasi tentang pertanian rumah tangga, pelatihan desain ruang hijau, hingga insentif bagi warga yang mengembangkan RLH bisa menjadi langkah nyata dalam mendorong transformasi kota yang lebih hijau dan sehat.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Sanditha Setya Wisaksanti

Editor : Ibnu Candra Hakim

Copyright © 2026 Jogja Konstruksi-Rumah Sempit Terasa Nyaman Gratis Konsultasi dan Survey +62 813-8453-4855