jogjakonstruksi.com – Edge trim tidak populer di jogja alternatif sponengan modern. Meski populer di industri furnitur modern, penggunaan edge trim masih jarang ditemukan di rumah-rumah Jogja. Model sambungan seperti sponengan lebih diminati pada penerapan gaya arsitektur tradisional dan teknik pertukangan lokal. Namun, dengan perkembangan desain interior modern, muncul alternatif lain yang mulai dipertimbangkan.
Edge Trim Geser Budaya Berdesain di Jogja
Jogja dikenal memiliki arsitektur tradisional yang kuat, mengedepankan prinsip estetika beton dan fungsi dari kayu alami. Salah satu teknik yang masih dominan digunakan oleh tukang lokal yaitu sponengan teknik, membuat alur sambungan yang rapi tanpa bantuan bahan tambahan.

Edge trim tidak populer di Jogja alternatif sponengan modern. Di tengah menjamurnya rumah bergaya minimalis, muncul pertanyaan jamak apakah edge trim bisa menjadi alternatif atau menggantikan metode sponengan. Teguh selaku pekerja Doma menjelaskan untuk rumah tradisional edge trim jarang digunakan dan lebih memilih tukang batu, atau tukang kayu untuk membuat sambungan atau sudutnya pun juga dengan kitchen set dan interior. “Di proyek perumahan konvensional atau rumah adat, edge trim hampir tidak pernah digunakan, tetapi pada interior rumah baru, terutama kitchen set dan furnitur dari MDF atau HPL, kadang klien minta pakai edging untuk hasil rapi.” jelas Teguh.
Kelebihan Edge Trim Dewasa Ini
Edge trim memang banyak digunakan di industri manufaktur interior dan arsitektur modern. Detail interior arsitektur khususnya untuk menutupi tepi multipleks atau MDF agar terlihat bersih dan tidak tajam. Namun, penerapannya di rumah-rumah Jogja tergolong minim karena ketidaksesuaian dengan estetika lokal, keterbatasan alat pemasangan seperti mesin edging, dan kekhawatiran terhadap daya tahan lem di iklim tropis.
Sebagai alternatif sponengan, beberapa tukang dan arsitek interior kini mulai melirik metode lain di antaranya adalah laminasi dengan finishing menyeluruh menggunakan HPL atau veneer yang menutup seluruh permukaan termasuk sisi. Lainnya, sambungan finger joint atau biscuit joint, teknik modern yang tetap mempertahankan nilai estetika kayu. Terakhir, profil cetakan atau lis kayu yang menutup bagian tepi sekaligus menambah nilai dekoratif.
Pandangan Ahli Mengenai Edge Trim
Arsitek Doma, Rycko, mengatakan bahwa permintaan akan edge trim memang meningkat di kalangan milenial, tetapi tetap terbatas pada elemen non-struktural seperti rak gantung atau lemari dapur. “Jogja punya ciri khas. Kalau klien ingin rumah yang bernuansa lokal, edge trim biasanya tidak kami tawarkan. Tapi untuk furnitur custom modern, itu bisa jadi solusi cepat dan praktis,” ujar Rycko.
Dengan semakin beragamnya gaya desain rumah di Jogja, teknik-teknik pertukangan pun ikut berevolusi. Meski edge trim belum menjadi pilihan utama, kehadirannya sebagai alternatif modern tetap membuka ruang baru dalam ranah desain interior lokal. Modernisasi dan teknologi juga diharuskan untuk mengenal budaya lokal agar penerapannya akan diterima oleh masyarakat yang masih menjunjung tinggi norma dan budaya.
Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami
Penulis : Ibnu Candra Hakim
Editor : Sanditha Setya Wisaksanti



