jogjakonstruksi.com – Konstruksi lahan sempit kota jogja dukung ruang lestari hijau. Di tengah padatnya pemukiman dan lahan sempit menimbulkan pertanyaan atas apa yang harus dilakukan. Lahan sempit membuka peluang untuk beraktivitas secara produktif. Dimulai dari menerapkan ruang lestari hijau secara mandiri, lalu dibarengi dengan kolaborasi lintas disiplin ilmu pertanian dan arsitektur.
Pemetaan Ruang Lestari Hijau di Perkotaan
Konstruksi lahan sempit kota jogja dukung ruang lestari hijau. Lahan sempit yang saat ini dirasakan oleh sebagian besar penduduk perkotaan menjadi masalah krusial. Populasi penduduk yang semakin meningkat menyebabkan kebutuhan hunian semakin meningkat. Lahan sempit di wilayah perkotaan seringkali dianggap sebagai ruang sisa yang tidak memiliki nilai guna. Padahal, jika dimanfaatkan dengan baik, lahan ini dapat menjadi ruang produktif yang bermanfaat secara ekonomi, sosial, dan ekologis.

Terkadang aspek desain dan arsitektural dari hunian tidak sepenuhnya mendapatkan perhatian khusus, sehingga lahan sempit atau sisa di sekitar rumah masih ada. Namun, tak bisa dipungkiri jika lahan sempit tersebut menimbulkan pertanyaan bagi penghuni akan digunakan untuk apa. Pertanyaan ini menjadi masalah yang penting untuk dikulik sebab jika mengacu pada ilmu pertanian, lahan sempit di sekitar bangunan dapat dimanfaatkan sebagai Ruang Lestari Hijau (RLH).
RLH merupakan konsep pemanfaatan lahan secara intensif untuk budidaya komoditas pangan berkelanjutan dengan tujuan utama meningkatkan kemandirian pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap pasar. Pemanfaatan RLH biasanya dilakukan melalui kegiatan pertanian skala kecil seperti menanam sayuran, buah-buahan, hingga tanaman rimpang yang hasilnya dapat dikonsumsi langsung oleh keluarga. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga memberikan ruang interaksi keluarga, mengurangi stres, dan memperkuat kesadaran terhadap pentingnya lingkungan.
Namun, penerapan RLH di lahan sempit tidak bisa dilakukan sembarangan. Diperlukan perencanaan ruang yang matang, termasuk pemilihan jenis tanaman yang sesuai, teknik penanaman, pengelolaan pencahayaan, serta sistem pengairan. Oleh karena itu, dibutuhkan kolaborasi lintas disiplin ilmu, khususnya antara pertanian dan arsitektur.
Kolaborasi Lintas Disiplin Ilmu Pertanian dan Arsitektur
Jika hanya mengandalkan ilmu pertanian saja, tanpa adanya kolaborasi dari tenaga ahli seperti arsitek, penerapan RLH tidak dapat berjalan optimal. Meskipun terdengar sederhana, RLH sebenarnya memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi. Segala pertimbangan itu dimiliki RLH di lahan sempit tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan pertanian. Keberhasilan implementasinya sangat ditentukan oleh pendekatan desain arsitektural yang tepat. Arsitek memiliki peran penting dalam merancang tata ruang yang efisien, mempertimbangkan aspek sirkulasi udara, pencahayaan alami, drainase, serta estetika ruang agar lingkungan tetap nyaman dan fungsional.
Kolaborasi antara ahli pertanian dan arsitek memungkinkan terciptanya desain yang adaptif terhadap keterbatasan lahan. Misalnya, teknik budidaya seperti vertikultur, hortikultura, hingga tanaman buah dalam pot (tabulampot) yang bisa diaplikasikan di dinding rumah bahkan balkon. Pendekatan ini tidak hanya menghemat ruang, tetapi juga memperluas area tanam tanpa mengorbankan fungsi hunian.
Menuju Kota yang Lebih Lestari dan Mandiri
Pengembangan RLH di lahan sempit bisa menjadi langkah ideal apabila diterapkan di perkotaan, terutama kota Jogja. Konsep ini sejalan dengan prinsip urban sustainability yang menekankan pentingnya keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan.
Pemerintah kota Jogja, swasta, hingga masyarakat perlu bersinergi untuk memperluas pemahaman dan implementasi RLH . Edukasi tentang pertanian rumah tangga, pelatihan desain ruang hijau, hingga insentif bagi warga yang mengembangkan RLH bisa menjadi langkah nyata dalam mendorong transformasi kota yang lebih hijau dan sehat.
Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami
Penulis : Sanditha Setya Wisaksanti
Editor : Ibnu Candra Hakim



