Cross Ventilation dan Cahaya Alami Nako Bangunan di Jogja

jogjakonstruksi.com – Cross ventilation dan cahaya alami nako bangunan di Jogja. Iklim tropis seperti di Jogja, kebutuhan akan bangunan yang sejuk, hemat energi, dan tetap estetis budaya menjadi perhatian utama para arsitek kini. Jendela nako, dengan desain bilah kaca horizontal yang dapat diatur sudut bukanya, kembali populer sebagai elemen desain yang adaptif saat ini. Banyak rumah tradisional di Jogja yang biasanya dibangun dengan pertimbangan sirkulasi udara alami. Tren ini kini mulai dipadukan dengan pendekatan modern yang mengandalkan jendela nako untuk mendukung ventilasi silang atau cross ventilation. Hal ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan termal dalam ruangan, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada alat pendingin ruangan.

Dari Cross Ventilation sampai Pencahayaan Alami Jendela Nako Punya Semua

Ventilasi silang bekerja dengan prinsip adanya dua bukaan pada sisi berseberangan ruangan. Konsep berseberangan ini memungkinkan aliran udara dapat melintas dan membawa udara panas keluar. Jendela nako memungkinkan bukaan yang lebih fleksibel dibandingkan jendela biasa. Membuat udara luar lebih mudah masuk dan keluar sesuai arah angin. Di Jogja, suhu siang hari bisa sangat tinggi, sirkulasi udara yang efektif sangat membantu menjaga suhu dalam ruangan tetap nyaman. Penerapan jendela nako juga cocok untuk rumah dengan lahan terbatas karena tidak memakan banyak ruang saat dibuka, sekaligus memberikan keamanan karena bilah kacanya tetap terjaga di dalam rangka jendela.

Sumber: iDEA Online

Pencahayaan alami telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari pendekatan arsitektur tropis. Dengan posisi jendela nako yang dapat diatur sesuai kebutuhan, pemilik rumah dapat mengontrol seberapa banyak cahaya yang masuk ke dalam ruangan. Di pagi dan sore hari, bilah jendela bisa dibuka lebih lebar untuk memaksimalkan cahaya alami. Sementara pada siang terik, sudut bilah bisa diubah untuk menahan sinar langsung sambil tetap membiarkan cahaya menyebar.

Rumah tradisional Jawa Jogja seperti joglo, dikenal dengan langit-langit tinggi dan bukaan besar. Dengan menerapkan budaya dan fungsinya, semakin lengkap dengan jendela nako. Menciptakan nuansa terang, sejuk, dan tetap terhubung dengan alam sekitar. Erik mengatakan, pemanfaatkan elemen bangunan dalam desain bisa membantu efisiensi energi secara makro. “Elemen dan bahan bangunan bisa sangat signifikan untuk mendukung rencana desain secara menyeluruh,” imbuh Erik.

Jendela Nako Budaya dan Identitas Bangunan

Penggunaan jendela nako bukan hanya solusi fungsional, tetapi juga menjadi representasi dari adaptasi arsitektur tradisional. Desain arsitektur yang bertransformasi mengikuti kebutuhan zaman dan manusia. Arsitek di Jogja mulai mengeksplorasi ulang elemen terlupakan seperti jendela nako untuk menyelaraskan nilai budaya, estetika, dan kenyamanan hunian. Rumah lawas di kawasan Kotagede dan Kotabaru, misalnya, mulai direnovasi dengan mengombinasikan material lama dengan jendela nako berbingkai kayu atau logam ringan, menghadirkan wajah baru tanpa meninggalkan identitas asli bangunan.

Cross ventilation dan cahaya alami nako bangunan di Jogja. Tren ini menjadi bukti bahwa pendekatan desain ramah lingkungan tidak harus mengorbankan nilai budaya atau estetika. Sebaliknya, elemen seperti jendela nako membuktikan bahwa solusi sederhana bisa memberikan dampak besar. Dampaknya meliputi menghemat energi, menjaga kesehatan penghuni, maupun melestarikan warisan arsitektur lokal. Di tengah tantangan perubahan iklim dan urbanisasi, jendela nako menjadi perwujudan nyata bahwa inovasi terbaik sering kali berasal dari pengetahuan lama yang dihidupkan kembali secara bijak.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Haqqina Jasmine Rahmatika

Lagi Rumah Subsidi Mengecil Bijaksana atau Bencana

jogjakonstruksi.com – Lagi rumah subsidi mengecil bijaksana atau bencana. Ukuran rumah subsidi di negeri ini semula 18 meter persegi, kini kembali menyusut menjadi 14 meter persegi. Kebijakan ini menimbulkan pertanyaan besar di publik, apa yang terjadi dan apakah ukuran baru ini masih ideal untuk masyarakat berpenghasilan rendah?

Susutnya Kebijakan untuk Rumah Subsidi

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat secara resmi mengumumkan perubahan standar minimum luas rumah subsidi. Jika sebelumnya, rumah subsidi memiliki luas 18 meter persegi untuk tipe 21, kini ukuran minimum ditetapkan menjadi hanya 14 meter persegi. Penyesuaian ini merupakan bagian dari kebijakan terbaru untuk efisiensi lahan dan biaya konstruksi nasional.

Sumber: detikcom

Kembali banyak masyarakat yang mempertanyakan alasan dibalik penyusutan ini. Di platform X misalnya, berbagai kalangan menyuarakan kekhawatiran mengenai kenyamanan dan kelayakan hunian yang semakin terbatas luasnya. Beberapa pengamat dan ahli perumahan pun mempertanyakan urgensi dan dampaknya terhadap kualitas hidup penghuni.

Kebijakan Untuk Publik Tanpa Jejak Pendapat Publik Polemik Rumah Subsidi

Pemerintah beralasan bahwa keterbatasan lahan di kawasan padat serta kenaikan harga bahan konstruksi mendorong perubahan kebijakan ini. Dengan mengurangi ukuran luasan rumah, pengembang dapat menjaga harga tetap terjangkau. Pun, juga sambil mempercepat pembangunan unit-unit baru yang mulai dipersiapkan. Meski demikian, keputusan ini tidak lepas dari kritik pedas atas kurangnya konsultasi publik pra produksi.

Banyak pihak termasuk ahli dan akademisi meragukan tingkat ideal rumah 14 meter persegi sebagai hunian jangka panjang. Ukuran yang sangat terbatas membuat penghuni sulit memiliki ruang gerak yang laik. Lagi, bagi keluarga kecil dan berencana menambah anggota keluarga baru dirasa sangat tidak memungkinkan. Aktivitas harian seperti memasak, ibadah, belajar anak, atau menerima tamu menjadi tantangan rumit tersendiri dalam ruang tak ideal ini.

Pemerhati Kritik Kebijakan Baru Pemerintah Soal Rumah Subsidi

Sejumlah ahli dalam dunia konstruksi dan pemerhati perumahan desak pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan ini. Mereka menekankan bahwa rumah bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga sarana tumbuh kembang keluarga. Ukuran hunian harus sejalan dengan standar kelayakan hidup, bukan semata efisiensi anggaran.

Lagi rumah subsidi mengecil bijaksana atau bencana. Kontraktor di Jogja, Ibnu berpendapat bahwa rumah adalah awal mula personal space terbentuk. Penggunaan ruang pertama seperti rumah akan menentukan bagaimana orang tersebut membentuk personal spacenya di lingkungan luar. “Rumah yang tidak ideal sangat mempengaruhi personal space orang tersebut, kita harus memperhatikan kebutuhannya juga,” jelas Ibnu.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Haqqina Jasmine Rahmatika

Konstruksi Masjid Jogokariyan Jogja Tampung 1000 Jamaah

jogjakonstruksi.com – Konstruksi Masjid Jogokariyan Jogja tampung 1000 jamaah. Mengenal konstruksi 3 lantai Masjid Jogokariyan yang terus berjalan, jadi tren positif yang signifikan. Masjid yang berada di kawasan strategis Kota Jogja ini dirancang untuk menampung hingga 1000 jamaah. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan ruang ibadah bagi warga dan pengunjung dari berbagai daerah yang berkunjung secara periodik di Jogokariyan.

3 Lantai Bantu Tampung Jamaah Lebih Banyak

Konstruksi 3 lantai Masjid Jogokariyan Jogja ini merupakan bentuk respon atas perkembangan jumlah jamaah yang kian meningkat. Dengan kapasitas tampung mencapai 1000 jamaah, harapannya masjid ini mampu menjadi pusat kegiatan ibadah dan sosial yang representatif di wilayah Yogyakarta.

Sumber: Jurnal Islam

Menurut Herat takmir Masjid Jogokariyan, desain arsitektur bangunan memadukan unsur tradisional dan modern. Setiap lantai difungsikan secara optimal: lantai dasar untuk shalat lima waktu, lantai dua untuk kajian dan kegiatan pendidikan, serta lantai tiga sebagai ruang serbaguna untuk kebutuhan masyarakat.

Masjid Jogokariyan Pusat Dakwah Baru Di Kota Budaya

Pembangunan Masjid Jogokariyan Jogja ini melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat melalui donasi dan gotong royong. Herat mengatakan, “Konstruksi 3 lantai Masjid Jogokariyan, tampung capai 1000 jamaah, ini bukan hanya proyek fisik konstruksi, tapi juga semangat umat yang membantu.”

Harapannya, masjid ini akan semakin memperkuat peran sebagai pusat dakwah dan pemberdayaan masyarakat di tengah Kota Jogja. Sekaligus, menjadi simbol kemajuan fasilitas keagamaan yang inklusif dan berbudaya. Konstruksi Masjid Jogokariyan Jogja tampung 1000 jamaah. Ibnu menambahkan, Masjid Jogokariyan kini telah menjadi salah satu destinasi keagamaan di Jogja bagi Umat Muslim di Indonesia. Posisinya menjadikan salah satu masjid di Kota Jogja dengan perkembangan yang signifikan setiap tahunnya. “Di kota pendidikan dan budaya ini tumbuh satu masjid yang dibangun dari umat dan untuk umat itu sangat unik,” ujar Ibnu.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Haqqina Jasmine Rahmatika

Urban Farming Kelurahan Bausasran Hijau Tengah Kota Jogja

jogjakonstruksi.com – Urban farming Kelurahan Sayur Bausasran Hijau tengah Kota Jogja. Kelurahan Sayur Bausasran, yang terletak di tengah Kota Yogyakarta, menjadi contoh keberhasilan urban farming atau pertanian dalam kota. Melalui pemanfaatan lahan sempit dan teknologi sederhana pertanian, warga berhasil menciptakan lingkungan hijau yang produktif dan mandiri secara pangan sekunder.

Program Dari Masyarakat Untuk Masyarakat

Kelurahan Bausasran kini dikenal sebagai salah satu percontohan urban farming di Yogyakarta. Di tengah padatnya permukiman Kota Jogja, warga memanfaatkan pekarangan rumah dan gang-gang sempit. Pemanfaatan ini menyebar hingga ke dinding dan menerapkan metode vertikal untuk menanam berbagai jenis sayuran, seperti kangkung, bayam, cabai, dan selada.

Sumber: Panen Talks

Program ini digagas oleh warga setempat bekerja sama dengan kelurahan dan komunitas pecinta lingkungan. Dengan prinsipnya yaitu gotong royong, warga Bausasran menyulap kampung mereka menjadi kawasan hijau yang asri dan produktif pangan.

Menurut Ketua RW setempat yaitu Pomo, urban farming tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pangan hari-hari, tetapi juga meningkatkan kepedulian lingkungan dan mempererat sosial antarwarga. “Dulu gang sempit dan nonproduktif. Sekarang bisa jadi sumber sayur setiap hari,” ujarnya.

Inspirasi Kelurahan Lain di Kota Yogyakarta

Selain menanam sayur, warga juga mempraktikkan pengelolaan sampah organik menjadi kompos. Pupuk kompos ini, nantinya akan digunakan untuk menyuburkan tanaman sayuran. Sanditha berpendapat, mereka juga memanfaatkan teknologi hidroponik dan vertikultur untuk mengatasi keterbatasan lahan, serta pupuknya didapat dari olahan mandiri. “Masyarakat Cokro seperti Pak Pomo memang memanfaatkan lahan untuk sayuran dengan metode hidroponik dan vertikultur, pupuknya juga olahan sendiri,” jelas Sanditha.

Dengan semangat gotong royong, Kelurahan Bausasran membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukanlah hambatan untuk mewujudkan kemandirian pangan dan kelestarian lingkungan di tengah kota. Sekaligus menjadi kegiatan yang menyatukan masyarakat dengan hubungan sosial karena gotong royong.

Urban farming Kelurahan Sayur Bausasran Hijau tengah Kota Jogja. Keberhasilan Kelurahan Bausasran menjadi inspirasi bagi kelurahan lain di Jogja untuk mengembangkan pertanian dan pangan mandiri kota. Sebagai solusi hijau, sehat, dan mandiri di tengah tantangan urbanisasi yang kian menjepit.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Haqqina Jasmine Rahmatika

Vegetasi Dalam dan Luar Ruangan Kunci Estetika dan Fungsi

jogjakonstruksi.com – Vegetasi dalam dan luar ruangan kunci estetika dan fungsi. Pemilihan vegetasi yang tepat untuk area teras kini menjadi perhatian utama dalam desain arsitektur hunian modern. Vegetasi memberikan kenyamanan, kualitas udara yang lebih baik di dalam dan luar ruangan, tampilan yang cantik, bahkan menghasilkan pangan pendukung.

Vegetasi Ideal Ranah Arsitektur Lanskap

Arsitek lanskap mulai merekomendasikan vegetasi yang tidak hanya estetik, tetapi juga adaptif terhadap perubahan iklim dan mudah dirawat. Tanaman seperti lidah mertua, palem kuning, hingga pakis menjadi favorit. Tanaman dengan fasad untuk area semi-terbuka karena kemampuannya memberikan kesan tropis yang asri apalagi dikondisi seperti kota Jogja.

Sementara itu, vegetasi yang cocok untuk bagian luar ruangan semacam teras atau taman kecil di bagian depan rumah, seperti tanaman perindang, tanaman bunga, dan tanaman hias berdaun lebar. Pemilihan vegetasi ini sangat cocok karena merupakan tanaman yang suka dengan paparan sinar matahari. Selain tahan terhadap sinar matahari langsung, tanaman-tanaman ini juga memberi kesan eksotis dan asri pada fasad rumah.

Sumber: Mitra10

Tak hanya dari sisi estetika, pemilihan tanaman juga mempertimbangkan fungsi. Ibnu berpendapat bahwa vegetasi yang dipilih tidak hanya mengedepankan estetika, tetapi lebih ke fungsi dan apa yang didapat dari fungsi itu menjadi estetika “Kami selalu mengedepankan vegetasi dengan fungsi yang bisa meneduhkan dan menyerap polusi, sekaligus memperindah ruang,” ujar Ibnu.

Fungsi dan Estetika Vegetasi Kunci Penghijau Juga Penghasil Pangan

Tren terbaru menunjukkan bahwa banyak pemilik rumah kini mulai melakukan pemberdayaan vegetasi pangan. Tanaman penghasil pangan ditanam dengan metode vegetasi dalam pot, vertical garden, dan sistem hidroponik. Bahkan tidak hanya sebagai vegetasi penghasil pangan saja, tetapi juga sebagai elemen dekoratif pada teras mereka. Ini sejalan dengan konsep green living yang mengedepankan keselarasan antara manusia dan alam dalam ruang hunian.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa pemilihan vegetasi tetap harus disesuaikan dengan iklim lokal, pencahayaan alami, dan sirkulasi udara. Tanaman yang tampak indah belum tentu cocok dengan kondisi bangunan di lingkungan tropis seperti Indonesia. Sanditha berpendapat bahwa tanaman untuk dalam dan luar ruangan memiliki perbedaaan yang signifikan mulai dari kebutuhan cahaya dan air. “Tanaman di dalam ruangan haruslah yang tidak mati meskipun kurang cahaya matahari dan air, sebaliknya untuk luar ruangan,” jelasnya.

Arsitektur masa kini tidak lagi sekadar soal bentuk dan fungsi bangunan saja. Lebih dari itu, juga bagaimana menghidupkan ruang melalui elemen alami seperti vegetasi. Rumah yang didesain dengan tanaman yang tepat dapat menjadi ruang transisi yang menyenangkan, sehat, dan menenangkan bagi penghuninya. Apalagi, saat ini tren vegetasi halaman mulai berubah dan dimodifikasi menjadi vegetasi penghasil pangan, seperti sayuran hijau dan lainnya.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Haqqina Jasmine Rahmatika

Mahasiswa di Jogja Harus Pahami Ruang Komunal di Kos

jogjakonstruksi.com – Mahasiswa di Jogja harus pahami ruang komunal di kos. Tata tertib tempat tinggal memang penting, tetapi mahasiswa kos di Jogja juga harus paham fungsi ruang komunal. Cegah konflik antar penghuni akibat salah persepsi hingga pelanggaran batas privasi kenyamanan. Ruang komunal sebagai pusat interaksi sosial, tempat berbagi informasi, hingga wadah solidaritas sosial antar penghuni perlu lebih diperhatikan oleh mahasiswa di Jogja.

Arsitektur Mengatur Kenyamanan dengan Ukuran Hitung dan Empiris dalam Ruang Komunal

Mahasiswa yang tinggal di kos tak hanya perlu memahami tata tertib kos yang berlaku, tetapi juga penting untuk memahami fungsi ruang komunal atau ruang bersama. Kerap kali mahasiswa baru hanya berfokus pada peraturan kamar pribadi miliknya atau penghuni lain. Namun, lupa jika terdapat ruang-ruang bersama yang memerlukan perhatian. Hal tersebut secara tidak langsung memunculkan sikap saling menghargai sesama pengguna kos. Terlebih jika diadopsi di Jogja yang memiliki banyak Universitas dan banyak hunian kos disekitarnya.

Sumber: Rukita

Ruang komunal di kos sering kali menjadi pusat interaksi sosial antar pengguna, tempat berbagi informasi, hingga wadah solidaritas antar penghuni. Tempat seperti dapur, ruang tamu, atau halaman depan sering digunakan bersama dan dapat menjadi ajang membangun gandeng positif. Tak jarang interaksi sesama pengguna wanita terjadi di dapur kos karena kegiatan pengolahan pangan atau memasak.

Minimalisir Konflik Penataan Arsitektur Mudahkan Pengguna dalam Ruang Komunal di Kos

Tanpa pemahaman yang baik, potensi konflik antar penghuni bisa meningkat karena salah persepsi atau pelanggaran batas kenyamanan. Misalnya, menggunakan ruang bersama untuk kegiatan pribadi secara berlebihan atau tidak menjaga kebersihan. Ini dapat menimbulkan ketegangan antar penghuni kos karena pada dasaranya ruang komunal porsinya digunakan bersamaan dan bergantian secara merata antara penghuni kos.

Oleh karena itu, edukasi tentang etika dan fungsi ruang bersama perlu lebih diperhatikan oleh mahasiswa rantau. Pemilik kos dan pengelola dapat membantu dengan membuat aturan yang jelas. Dengan cara edukatif dan mensosialisasikan pentingnya ruang komunal sebagai tempat hidup bersama, bukan hanya fasilitas tambahan. Ibnu menjelaskan, ruang komunal adalah salah satu teras keakraban antar penghuni. Penggunaan ruang komunal bersama akan lebih menguatkan ikatan place and space antar penghuni. “Ruang komunal adalah ruang yang digunakan bersama dan menjadi wadah kebersamaan meskipun nantinya bisa digunakan pribadi secara bergantian,” jelas Ibnu.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Haqqina Jasmine Rahmatika

Desain Kos Ideal dan Sustainability di Jogja

jogjakonstruksi.com – Desain kos ideal dan sustainability di Jogja. Jumlah mahasiswa dan pekerja pendatang di Jogja meningkat menyebabkan kebutuhan hunian kos terus bertambah. Ukuran dan desain kamar kos ideal semestinya sejalan dengan penerapan desain berkelanjutan untuk kenyamanan. Tren kos di Jogja kini mengarah pada perpaduan antara ruang fungsional, desain yang ramah, dan mendukung lingkungan binaan.

Ukuran Ideal Menjadi Penting Benih Sustainability

Data dari sejumlah universitas dan lembaga pendidikan tinggi di Jogja menunjukkan tren penambahan mahasiswa luar daerah setiap tahun. Selain itu, berkembangnya sektor industri kreatif dan teknologi juga menarik minat para pekerja baru untuk tinggal sementara di kota budaya nan hangat ini.

Sumber: Rukita

Bicara mengenai ukuran kamar kos yang ideal, menjadi faktor penting untuk kenyamanan. Berdasarkan survei mandiri yang dilakukan oleh komunitas arsitektur lokal, ukuran kamar kos ideal di Jogja berkisar antara 3×3 meter hingga 4×4 meter. Ukuran ini dianggap cukup untuk menampung kebutuhan dasar penghuni seperti tidur, belajar, dan store (penyimpanan barang), tanpa membuat ruangan terasa sempit.

Namun, penerapan desain berkelanjutan (sustainability) untuk mendukung lingkungan dan efisiensi biaya dirasa kurang. Desain kos yang ramah lingkungan kini semakin diminati oleh pemilik kos dan kontraktor. Penggunaan ventilasi silang, pencahayaan alami, serta material daur ulang menjadi elemen penting dalam mengurangi penggunaan energi listrik dan menciptakan udara yang lebih sehat di dalam ruangan.

Ahli Bicara Soal Kos dan Desain Sustainability

Tren kos di Jogja kini mengarah pada perpaduan antara ruang yang fungsional dan desain yang ramah lingkungan. Sejumlah kontraktor di kota ini seperti Doma mulai merancang kos dengan pendekatan modular dan efisiensi energi. Dengan memanfaatkan lahan secara optimal tanpa mengorbankan kenyamanan dan pemanfaatan energi alam yang optimal. Bahkan, beberapa proyek kos-kosan sudah menerapkan sistem pengelolaan air hujan dan panel surya sebagai bagian dari konsep green building. Ibnu mengatakan, desain kos yang hanya mementingkan jumlah kamar akan kalah populer dibanding kos yang akan mendukung kenyamanan penghuni meski harganya lebih tinggi. “Kos yang terkesan sempit akan kalah bersaing dengan kos yang mengedepankan prinsip kenyamanan pengguna,” jelas Ibnu.

Dengan pertumbuhan kebutuhan hunian yang tinggi, pengembangan kos di Jogja tak bisa hanya fokus pada kuantitas. Konsep hunian mikro yang ergonomis dan berkelanjutan menjadi solusi jangka panjang bagi kota pelajar ini. Pemerintah daerah pun didorong untuk memberikan regulasi dan insentif inisiatif bagi pembangunan kos yang mendukung prinsip sustainability dan mengedepankan kenyamanan pengguna.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Haqqina Jasmine Rahmatika

Rumah Subsidi 18 Meter Persegi Layakkah Dihuni

jogjakonstruksi.com – Rumah subsidi 18 meter persegi layakkah dihuni. Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menetapkan aturan baru. Aturan yang menyebut bahwa luas minimum rumah subsidi kini boleh hanya 18 meter persegi. Ubahan aturan ini menurun dari standar sebelumnya yang berada di kisaran 21 hingga 36 meter persegi. Kebijakan ini menimbulkan perdebatan mengenai apakah ukuran tersebut masih layak dijadikan tempat tinggal yang ideal, terutama bagi keluarga kecil.

18 Meter Persegi Pemerintah Tegaskan Efisiensi Warga Pertanyakan Kelayakan

Kebijakan baru ini tertuang dalam regulasi teknis terbaru dari Direktorat Jenderal Perumahan Kementerian PUPR. Dalam peraturan tersebut, rumah subsidi kini ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) kini dapat memiliki hunian dengan luas minimum 18 persegi. Pemerintah beralasan, kebijakan ini merupakan bagian dari strategi efisiensi lahan guna peningkatan untuk kepemilikan rumah bagi MBR. Tuntutan ideal ini, di tengah keterbatasan anggaran dan tingginya backlog perumahan nasional yang mencapai 12 juta unit.

Sumber: CNN Indonesia/Dhio Faiz

Nurani kita tergerak bukan sahabat Doma. Mengingat pertanyaan besar muncul apakah 18 meter persegi cukup untuk menciptakan hunian yang layak, sehat, dan nyaman bagi sebuah keluarga? apalagi di kota Jogja?

Efisiensi atau Kemunduran Rakyat Menganggap Terlalu Sempit

Namun, melihat respon masyarakat tidak sepenuhnya positif. Banyak masyarakat pengincar rumah subsidi, menyatakan kekhawatirannya. Herat selaku jurnalis senior berpendapat, “Kalau cuma 18 meter, tentu kurang apalagi masyarakat Jogja yang mungkin punya anak lebih dari dua ya” keluh Herat. Herat membandingkan rumah saat ini yang berukuran 124 m² dan dirasa masih kurang apalagi untuk yang memiliki anak yang beranjak dewasa. “Saya berharap rencana rumah subsidi bisa lebih baik dari rancangan ini ke depannya, bukan malah lebih kecil lagi,” jelas Herat.

Ancaman Kesehatan Mental dan Sosial

Ibnu dengan tegas mengkritik solusi pendekatan ini. Menurutnya, rumah dengan ukuran terlalu kecil berisiko memicu masalah kesehatan, mental, dan sosial. Ibnu berkata “Ada SNI dan standarnya misal berkaca Internasional ada WHO yang menetapkan kebutuhan space per orang adalah 9-10 m². Jika satu rumah hanya 18 meter persegi untuk satu keluarga inti, maka itu jelas tidak memenuhi standar laik hunian di kita,” tegas ibnu.

Keterbatasan ruang bisa berdampak pada kesehatan mental, privasi, serta tumbuh kembang manusia. Jika ditinjau dalam psikologi perilaku dalam meruang, kebutuhan ruang sangat mendasar karena rumah dan personal space adalah tempat primer manusia. Ibnu menambahkan “Memang benar rumah bisa dikembangkan di kemudian hari, tapi tidak semua MBR mampu membangun perluasan sendiri dalam waktu dekat dan terencana,” imbuh Ibnu.

Pertanyaan dan Renungan Bersama Layak atau Tidak

Rumah subsidi 18 meter persegi layakkah dihuni. Peraturan baru rumah subsidi 18 meter persegi, menjadi gambaran dilema romansa pemerintah dan kebijakan timpang tindihnya. Kebijakan tanpa memikirkan mitigasi, antara kebutuhan akan efisiensi dan hak atas hunian yang laik. Pemerintah menilai kebijakan ini sebagai solusi realistis konkrit di tengah keterbatasan. Namun, masyarakat dan ahli mengingatkan bahwa rumah bukan sekadar tempat tinggal, tapi juga ruang tumbuh privasi dan memulai kebahagiaan keluarga

Layak atau tidaknya rumah 18 m persegi masih menjadi perdebatan terbuka yang malu. Yang jelas, kebijakan ini akan diuji oleh realitas dan air mata di lapangan nanti. Apakah benar rumah secarik mungil itu bisa menjadi awal dari kehidupan bahagia berwarna mawar yang lebih baik, atau justru menambah api hitam bagi masyarakat yang ingin lepas dari sengsaranya negeri ini.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Inner Courtyard Solusi Arsitektur Cerdas di Tengah Perkotaan Jogja

jogjakonstruksi.com – Inner courtyard solusi arsitektur cerdas di tengah perkotaan Jogja. Keterbatasan space di kawasan urban seperti Yogyakarta, konsep arsitektur inner courtyard kembali naik daun. Ruang terbuka di tengah bangunan ini tak hanya menjadi solusi estetika, tetapi lebih dari itu ada fungsi yang menjadi penting. Fungsi dalam menawarkan kenyamanan termal, pencahayaan alami, hingga ruang komunal alternatif yang cocok dengan iklim tropis dan budaya Jawa Jogja.

Inner Courtyard di Jogja

Inner courtyard adalah sebuah ruang terbuka biasanya taman, kolam, atau ruang santai komunal. Space ini biasanya terletak di dalam inti bangunan dan dikelilingi oleh dinding atau ruangan di sekelilingnya. Konsep ini sudah digunakan sejak ribuan tahun lalu dalam berbagai budaya, termasuk rumah-rumah tradisional Tiongkok, Romawi, hingga arsitektur tropis seperti rumah Joglo di Indonesia.

Sumber: archdaily.com

Arsitektur konteks modern, inner courtyard hadir sebagai respons terhadap tantangan urban tropis keterbatasan lahan, kebutuhan pencahayaan alami, serta kebutuhan akan ruang hijau privat di tengah padatnya pemukiman urban dan sub urban.

Kelebihan Kekurangan Inner Courtyard dan Penerapannya

Kelebihan inner courtyard, meliputi pencahayaan alami yang optimal, sirkulasi udara yang baik, serta memberikan suasana tenang dan privasi tinggi karena letaknya terlindung dari lingkungan luar. Selain itu, inner courtyard dapat berfungsi sebagai ruang hijau yang menyegarkan dan menjadi titik fokus visual bangunan.

Namun, kekurangannya adalah biaya konstruksi yang cenderung lebih tinggi karena kebutuhan perencanaan yang kompleks dan pemanfaatan lahan yang lebih besar. Selain itu, jika tidak dirancang dengan baik, inner courtyard bisa menimbulkan masalah drainase dan kurangnya sinar matahari pada sisi tertentu bangunan.

Jogja merupakan lokasi yang ideal untuk penerapan inner courtyard, baik dari sisi iklim, budaya, maupun urbanisasi. Banyak arsitek lokal dan kontraktor mulai mengadopsi konsep ini dalam hunian modern maupun bangunan publik.

Di kawasan seperti Kotagede dan Prawirotaman, beberapa homestay dan rumah tinggal sudah mengintegrasikan inner courtyard untuk menciptakan kesan sejuk dan tenang di tengah padatnya pemukiman. Sementara di area seperti Sleman dan Bantul, desain rumah-rumah baru mulai memanfaatkan ruang tengah sebagai area terbuka multifungsi. Ibnu berpendapat, penggunaan inner courtyard jika sesuai memang sangat baik dan ideal untuk sebuah hunian, dengan menimbang beberapa aspek. “Saya sendiri menerapkan inner court di rumah, selain menjadi ruang terbuka juga sebagai komunal tapi tetap perhatikan side construction seperti drainase,” jelas Ibnu.

Inner courtyard solusi arsitektur cerdas di tengah perkotaan Jogja. Menggabungkan konsep inner courtyard dengan filosofi lokal, seperti konsep “pusat dan inti” dalam rumah Jawa Jogja tradisional. Courtyard menjadi semacam “jantung rumah”, tempat berkumpulnya energi, keluarga, dan elemen alam. Sebagai masyarakat Jogja kita harus memaknai desain dalam sebuah arsitektur tidak hanya fungsi, kekuatan, dan estetika. Melainkan, budaya, nilai, dan harmonisasi.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Monjali Musem Berbentuk Kerucut Daya Tarik Unik di Jogja

jogjakonstruksi.com – Monjali museum berbentuk kerucut daya tarik unik di Jogja. Atap berbentuk kerucut menjadi sisi unik yang membedakan Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali) dari bangunan museum pada umumnya, sekaligus merepresentasikan filosofi dan nilai historis perjuangan bangsa Indonesia di Yogyakarta.

Monjali Semangat Perjuangan dan Gaya Arsitektur Lokal Jogja

Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali) di Yogyakarta tak hanya menyimpan berbagai koleksi bersejarah perjuangan kemerdekaan. Museum ini juga memiliki daya tarik tersendiri dari sisi arsitektur bangunan secara mandiri ataupun siteplan. Salah satu yang paling mencolok adalah atap bangunannya, yang berbentuk kerucut dan membulat berwarna putih yang dapat kita lihat dari ring road.

Sumber: Monumen Jogja Kembali

Bentuk kerucut tersebut bukan sekadar estetika visual, melainkan mengandung makna filosofis arsitektur. Struktur bangunan ini melambangkan semangat perjuangan yang mengarah pada satu titik tujuan yaitu kemerdekaan. Kerucut bulat juga merepresentasikan gunung, yang dalam budaya Jawa Jogja sering dikaitkan dengan tempat yang sakral dan penting untuk leluhur.

Ibnu, yang pernah berkunjung ke Monjali untuk mata kuliah studio berkata, ujung yang mengerucut dan menjadi satu titik adalah makna untuk menyatukan semangat uang kemerdekaan dan membuat seluruh bangsa memiliki satu tujuan yang sama. “Desain atap, memang dimaksudkan sebagai filosofi perjuangan dan tujuan bangsa pada satu titik yang sama diujung kerucutnya,” jelas Ibnu.

Bentuk Arsitektur Lambang Fungsi Sejarah dan Estetika

Selain nilai simbolis, desain kerucut ini juga memiliki fungsi teknis fiskal. Bentuknya memudahkan aliran air hujan turun langsung ke bawah, serta mendukung pencahayaan dan ventilasi alami di dalam museum. Tak heran, banyak pengunjung yang menjadikan museum Monjali bukan hanya sebagai destinasi wisata edukatif, tetapi juga spot favorit untuk berswafoto karena keunikan bentuk fasad bangunannya dan sitenya.

Museum Monjali sendiri dibangun untuk mengenang peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 dan perjuangan rakyat Yogyakarta dalam mempertahankan kemerdekaan NKRI. Pun dengan, tambahan elemen arsitektur ikonik seperti atap kerucut ini yang membuat unik. Monjali tampil sebagai monumen yang tak hanya kaya akan sejarah, tapi juga estetika budaya lokal Yogyakarta.

Monjali museum berbentuk kerucut daya tarik unik di Jogja. Keunikan ini semakin menegaskan bahwa Monjali bukan sekadar tempat menyimpan sejarah, melainkan juga simbol perlawanan, harapan, dan kekuatan identitas nasional. Saat ini, Monjali menjadi salah satu bangunan cagar budaya, dan menjadi simbol kota Jogja. Lagi, keberadaan taman pelangi di sekitar Monjali menjadi titik temu masyarakat sekitar.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Copyright © 2026 Jogja Konstruksi-Rumah Sempit Terasa Nyaman Gratis Konsultasi dan Survey +62 813-8453-4855