GAPEKSINDO Sukses Gelar Workshop Pengenaan Sanksi SBU

Workshop Pengenaan Sanksi SBU

jogjakonstruksi.com – GAPEKSINDO sukses gelar workshop pengenaan sanksi SBU. DPD GAPEKSINDO Prov. D.I. Yogyakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas penyedia jasa konstruksi mulai dari SBU, PANCEK KPK, DAN SIMPK pada 18 Januari 2025. Workshop pertama menghadirkan pembicara Ir. Fitri Hadiprabowo sebagai praktisi jasa konstruksi, yang mempresentasikan mengenai pengenaan sanksi administratif SBU dan LSBU.

Workshop ini terbagi menjadi tiga bagian bahasan utama yakni, Pengenaan Sanksi Administrasi SBU, PANCEK KPK, dan SIMPK. Pada Selasa, 18 Februari 2025 yang bertempat di ruang meeting Citra Cakra, The Malioboro Hotel. Ir. Fitri memberikan paparan mengenai mekanisme perpanjangan dan pengenaan sanksi keterlambatan perpanjangan. Pemaparan yang diikuti oleh berbagai pertanyaan ini memberikan wawasan luas kepada seluruh penyedia jasa konstruksi di DIY mengenai detail mekanisme perpanjangan dan sanksi SBU. Paparan ini mendapat respon positif dari semua peserta yang sebagian besar berasar dari kalangan penyedia jasa konstruksi di DIY.

Hubungi Jogja Konstruksi / Doma Living House

Perpanjangan SBU dan sanksi ini sangat penting karena banyak sertifikat badan usaha yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pada PP No. 6 Tahun 2021 dan PP No. 14 tahun 2021 terkait adanya rangkap jabatan pada badan usaha untuk tenaga kerja tetap yang tidak dilaporkan penggantinya dan terlambat melakukan pemenuhan persyaratan minimal jumlah peralatan utama serta Lembaga Sertifikasi Badan Usaha (LSBU) seperti yang dikutip pada putusan menteri PUPR BK. 10-Mn/75 pada 1 Februari 2024.

Pembicara pada sesi pertama, Ir. Fitri menekankan bahwa hal ini sangat penting untuk dipahami dan diterapkan kepada seluruh penyedia jasa konstruksi di DIY. Legalitas dan administrasi merupakan aspek fundamental dalam penegakan hukum dan kekuatan hukum proyek, “Legalitas sangat penting untuk dipahami semua penyedia jasa konstruksi atau kontraktor,” jelasnya.

Gapeksindo berkomitmen untuk terus mengadakan kegiatan serupa di masa mendatang guna meningkatkan kesadaran dan pemahaman secara mendasar di sektor konstruksi di DIY. Dengan terselenggaranya workshop ini diharapkan standar mengenai legalitas dan yang berkaitan dengan LSBU semakin meningkat.

Salah satu peserta dari Doma yaitu Agus Pomo Wicaksono, S.T. mengatakan bahwa kegiatan semacam ini harus terus dilakukan agar semua perusahaan mendapat pemahaman yang detail dan terintegritas, “Harus ada lagi agar semua perusahaan termasuk Doma menjadi sadar akan pentingnya legalitas,” pungkasnya.

Doma sebagai salah satu penyedia jasa konstruksi di DIY berkomitmen akan mengikuti semua peraturan dan perundang-undangan yang ada. Peraturan dan legalitas merukapakan hal yang baik dan termasuk bentuk menaati hukum di Indonesia. Agus Pomo selaku Direktur Doma menegaskan agar selalu berpartisipasi dalam workshop ataupun sosialisasi serupa di masa depan.

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Bekali Kontraktor Jogja GAPEKSINDO Beri Workshop PANCEK KPK dan SIMPK

GAPEKSINDO Adakan Workshop PANCEK KPK dan SIMPK

jogjakonstruksi.com – Bekali kontraktor Jogja GAPEKSINDO beri workshop PANCEK KPK dan SIMPK. DPD GAPEKSINDO Prov. D.I. Yogyakarta menunjukan kembali dedikasi dan komitmennya dalam meningkatkan kompetensi dan kapabilitas kepada penyedia jasa konstruksi atau kontraktor di wilayah DIY. Dengan mengadakan workshop dan sosialisasi bertema “Workshop dan Sosialisasi Pengenaan Sanksi SBU, PANCEK KPK, DAN SIMPK” pada tanggal 18 Januari 2025. Dalam workshop kedua ini mengenai Panduan Cegah Korupsi (Pancek) KPK dan SIMPK (Sistem Informasi Material dan Peralatan Konstruksi). Menghadirkan Pembicara Roro Wide Sulistyowati sebagai Kasatgas Direktorat Antikorupsi Badan Usaha Kedeputian Pencegahan & Monitoring KPK. Sesi kedua dengan Yudha Kurniawan, S.T. sebagai praktisi jasa konstruksi.

Workshop ini terbagi menjadi tiga bagian bahasan utama yakni, Pengenaan Sanksi Administrasi SBU, PANCEK KPK, dan SIMPK. Pada Selasa, 18 Februari 2025 yang bertempat di ruang meeting Citra Cakra, The Malioboro Hotel memberikan paparan mengenai panduan pencegahan korupsi sebagai instrumen sistem manajemen anti penyuapan. Kemudian, Yudha Kurniawan, S.T. memberikan pemaparan mengenai sistem informasi material peralatan konstruksi.

Hubungi Jogja Konstruksi / Doma Living House

Pemaparan yang diikuti oleh berbagai penyedia jasa konstruksi di D.I. Yogyakarta ini diharapkan memberikan pemahaman secara menyeluruh kepada penyedia jasa konstruksi di DIY mengenai detail PANCEK KPK dan Sistem Informasi material peralatan konstruksi. Paparan ini mendapat respon positif dari semua peserta, yang ditunjukkan dengan banyaknya pertanyaan kepada kedua narasumber. PANCEK KPK yang bertujuan untuk mencegah penyuapan, digitalisasi cegah korupsi dalam dunia konstruksi, dan evaluasi berikut pelaksanaannya, “Pemaparan semacam ini sangat penting untuk diketahui semua elemen khususnya yang bersinggungan langsung dengan pengadaan barang dan jasa di DIY,” jelas Roro Wide Sulistyowati dalam akhir pemaparannya.

Menyambung Pancek KPK disusul oleh, SIMPK yang disampaikan oleh Yudha Kurniawan, S.T. yang memberikan penekanan kepada mekanisme pengenaan sanksi administratif. Pemaparan kedua ini diharapkan mampu menjadikan penyedia jasa konstruksi di DIY dapat menyesuaikan proses bisnis pencatatan sumber daya peralatan dalam mendukung pengadaan barang atau jasa konstruksi di Kementerian Pekerjaan Umum. Yudha menjelaskan, “Mulai dari keputusan pemerintah, pelaksanaan hingga sanksi administrasi harus diketahui semua anggota GAPEKSINDO,” 

Bekali Kontraktor Jogja GAPEKSINDO Beri Workshop PANCEK KPK dan SIMPK

GAPEKSINDO berkomitmen untuk terus mengadakan kegiatan positif semacam ini di masa depan guna meningkatkan literasi dan pemahaman penyedia jasa konstruksi dan peserta pengadaan barang dan jasa DIY. Dengan terselenggaranya workshop ini, diharapkan pemahaman PANCEK dan SIMPK dapat dipahami lebih mendetai oleh para peserta. Salah satu anggota aktif GAPEKSINDO sekaligus pesertad dari Doma ataua jogja konstruksi yaitu Agus Pomo Wicaksono, S.T. mengatakan bahwa kegiatan sangat bagus dan dapat meningkatkan pemahaman akan peraturan terbaru dari pemerintah, serta meningkatkan silaturahim antar penyedia jasa konstruksi di DIY. “Bagus dan jelas, saya jadi paham alur dan apa yang menjadi aturan pemerintah terbaru untuk penyedia jasa konstruksi.” jelasnya.

Doma sebagai salah satu penyedia jasa konstruksi di DIY berkomitmen akan mengikuti semua peraturan dan perundang-undangan yang ada. Peraturan dan legalitas merupakan hal yang wajib diikuti dan termasuk menaati hukum yang berlaku di Indonesia. Agus Pomo selaku Direktur Doma menegaskan untuk selalu berpartisipasi dalam workshop ataupun sosialisasi serupa di masa depan. “Bentuk mengikuti apa yang tertuang di peraturan pemerintahan dan bentuk menjadi warga negara yang baik.” tambahnya.

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Masjid Syuhada Kotabaru, Masuknya Islam di Kotabaru Jogja

Masjid Syuhada Kotabaru, Masuknya Islam di Kotabaru

jogjakonstruksi.com – Masjid Syuhada Kotabaru, masuknya Islam di Kotabaru Jogja. Masjid Syuhada adalah masjid yang berada di Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Saat in Masjid Syuhada menjadi bangunan warisan budaya dan cagar budaya. Bangunan Masjid ini menjadi simbol masuknya agama Islam dan sejarah di Kotabaru setelah kemerdekaan Indonesia.

Hubungi Jogja Konstruksi / Doma Living House

Masjid Syuhada dibangun pada 1 Muharam 132H atau pada tanggal 20 September 1952. Dibangun dengan lokasi yang sangat strategis di Jalan I Dewa Nyoman Oka No. 13 Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta. 

Masjid Syuhada saat ini dijadikan bangunan warisan budaya dan cagar budaya yang ditetapkan oleh Gubernur DIY dalam Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 62 Tahun 2013 tentang pelestarian Cagar Budaya dan warisan budaya adalah benda, bangunan, struktur, situs yang perlu dilestarikan keberadaaanya.

Sejarah Masjid Syuhada merupakan tolak ukur masuknya Islam di Kotabaru, setelah elit Belanda pergi dan pendudukan Jepang berhasil diusir rakyat mulai menduduki penuh Kotabaru. Pertempuran Kotabaru yang membuat gugurnya 32 pahlawan pada saat itu, menjadi simbol terbentuknya nama Syuhada. Masjid Syuhada adalah nama yang didasari dari Syahid di mana untuk mengenang jasa pahlawan yang sudah berhasil merebut kembali Kotabaru. Herat sebagai jurnalis senior Jogja berkomentar bahwa Masjid Syuhada memang jadi simbol masuknya Islam di wilayah Kotabaru, “Syuhada adalah pintu masuk islam dan nasionalisme di Kotabaru,” jelasnya.

Presiden Soekarno adalah penggagas sekaligus pemrakarsa yang mendukung pembangunan masjid Syuhada bersama Pakualam VII pada tahun 1952 silam. Masjid ini dibangun dengan tujuan untuk memasukan agama Islam di Kotabaru yang saat itu hanya ada gereja kristen dan katolik. Hingga akhirnya

Masjid Syuhada merupakan bangunan masjid bergaya modern pertama yang dibangun di Yogyakarta. Bangunan masjid ini dibangun dengan arsitek Belanda yang bernama Ir. R Feenstra yang berasal dari N.V Associatie di Djakarta. Herat sebagai jurnalis senior di Jogja mengatakan bahwa kepala pembangunan Masjid Syuhada adalah orang Jogja, “Kepala pekerja Masjid Syuhada pada rilis resmi di data resmi adalah Supono,” tambahnya saat kami lakukan interview di kediamannya di Ngabean.

Penulis: Ibnu Candra Hakim

Editor: Sanditha Setya Wisaksanti

Salah Pilih Keramik Kamar Mandi (Keramik Polish vs Unpolished)

Salah Pilih Keramik Kamar Mandi

Salah pilih keramik kamar mandi (keramik polish vs unpolished). Dalam dunia konstruksi, pemilihan keramik kamar mandi menjadi salah satu aspek penting yang harus diperhatikan, terutama dalam memilih antara keramik polish (mengkilap) dan unpolished (tidak mengkilap). Kontraktor dan tenaga ahli konstruksi sering kali memberikan rekomendasi berdasarkan fungsi serta keamanan penggunaan di kamar mandi.

Tim Doma sering mendapati, pertanyaan dari calon owner tentang bagaimana memilih keramik yang cocok. Pemilihan untuk kamar mandi yang notabene bersinggungan langsung dengan air, harus mengutamakan keamanan. Untuk kamar mandi memang seharusnya memakai keramik unpilished yang permukaannya cenderung kasar. Pelaksana Doma Erik mengatakan, “Kamar mandi, memang seharusnya memakai unpolished di sisi lantai. Bahaya kalau licin.”

Hubungi Jogja Konstruksi / Doma Living House

Sumber gambar : Istimewa. Yogyakarta, 2025.

Keramik polish memiliki permukaan yang mengkilap karena melalui proses pemolesan tambahan. Jenis ini cocok untuk dinding kamar mandi atau area yang tidak sering terkena air, karena tampilan mengkilapnya memberikan kesan mewah dan lebih mudah dibersihkan dari noda. Namun, permukaannya yang licin bisa berisiko jika digunakan di lantai kamar mandi, terutama dalam kondisi basah.

Disisi lain, keramik unpolished memiliki tekstur yang lebih kasar dan tidak licin, menjadikannya pilihan yang lebih aman untuk lantai kamar mandi. Jenis ini lebih tahan terhadap goresan dan memberikan daya cengkeram yang lebih baik, sehingga mengurangi risiko tergelincir. Walaupun tidak sehalus keramik polish, tampilannya tetap elegan dan cocok untuk konsep kamar mandi minimalis atau natural.

Sumber gambar : Istimewa. Yogyakarta, 2025.

Tim Doma berpendapat, pemilihan keramik kamar mandi harus mempertimbangkan aspek keamanan, fungsi, dan estetika. Untuk kamar mandi rumah tinggal, disarankan menggunakan keramik unpolished pada lantai agar lebih aman, sementara keramik polish dapat digunakan pada dinding untuk meningkatkan tampilan mewah. Dengan kombinasi yang tepat, kamar mandi tidak hanya menjadi lebih aman tetapi juga nyaman dan estetis.

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Sahid J-Walk Mall Konsep Green Living Jogja

Sahid J-Walk Mall Konsep Green Living

jogja konstruksi.com – Sahid J-Walk Mall konsep green living Jogja. Sahid Mall yang berada di bilangan Babarsari, Jogja kini nampak sepi. Desain green style living yang diusung sebenarnya cukup unik dan menarik. Sahid J-Walk ini memiliki konsep mixed used pertama di Jogja dengan komplek yang berdiri di lahan dengan luas 8.5000 meter persegi.

Hubungi Jogja Konstruksi / Doma Living House

Sahid J-Walk dibangun di atas lahan luas di kawasan padat pelajar dan penduduk di bilangan Babarsari, Sleman, DIY. Dibangun pada tahun 2015 silam, bangunan ini menghabiskan anggaran sebangak kurang lebih 650 miliar rupiah. Beberapa bangunan yang menjadi komplek ini antara lain mall, hotel, dan convention hall.

Saat ini, banyak masyarakat Jogja yang berpendapat bahwa mall J-walk kini terlihat sepi. Tenant-tenant yang seharusnya memenuhi wilayah mall kini sudah mulai sepi. Hal ini dikarenakan kurangnya popularitas J-walk dibandingkan dengan mall-mall yang lain yang berada di DIY. Herat selaku masyarakat Yogyakarta dan jurnalis senior berpendapat bahwa popularitas J-walk ini kurang baik di masyarakat golongan menengah, “Saya kurang tau bahkan sangat jarang ke sana kecuali CGV yang murah,” jelasnya.

Desain J-walk sendiri mengusung ide green living atau bisa juga disebut green life style. Pada dasarnya untuk konsep bangunan menggunakan konsep green building, “Green building adalah konsep bangunan dengan efisiensi energi,” jelas Erik.  Green building yang dimaksud adalah bangunan yang sebisa mungkin mengurangi penggunaan energi. Bangunan mall dan kawasan J-walk memiliki orientasi yang memanfaatkan muson dengan menghadap ke utara. Lagi, dengan memanfaatkan bukaan-bukaan yang besar seperti jendela dan pintu-pintu yang mengakibatkan angin dan pencahayaan alami dapat menghemat penggunaan energi listrik hingga 20%-30%, “Bukaan yang besar dapat memanfaatkan udara alami dan pencahayaan alami,” tambah Ibnu.

J-walk ini sangat bagus dari segi desain dan konsep yang diusung. Meskipun saat ini sepi, tidak menutup kemungkinan jika di kemudian hari kawasan ini ramai kembali. Konsep green lifestyle, green living, hingga green building pun mulai digemari. Konsep hemat energi memang sangat didukung, tidak hanya pemerintah lokal namum juga dunia internasional.


Penulis: Ibnu Candra Hakim

Editor: Sanditha Setya Wisaksanti

Konstruksi Pasar Godean Jogja dan Masalah Relokasi Pedagang

Pasar Godean Jogja dan Masalah Relokasi Pedagang

jogjakonstruksi.com – Konstruksi Pasar Godean Jogja dan masalah relokasi pedagang. Pasar Godean telah melakukan revitalisasi besar dan telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo dan Sri Sultan Hamengku Bowono XI pada 28 Agustus 2024 silam. Saat ini banyak pedagang relokasi yang memutuskan untuk tidak kembali ke Pasar yang telah direnovasi. Bangunan Pasar Godean kini merupakan bangunan dengan perancangan sustainability dan arsitektur nusantara.

Pasar Godean terletak di Jalan Godean tetap di muka jalan Godean. Lokasi yang strategis dan percepatan pertumbuhan dan pemerataan membuat Pasar Godean menjadi pasar yang makin besar. Pasar Godean dirasa sudah tidak mampu menampung semua pedagang dan pengunjung pada waktu yang bersamaan. Lalu, pada 2023 silam wacana revitalisasi pasar godean mulai digalakkan. Tak butuh waktu lama ditahun yang sama, revitalisasi Pasar Godean sudah dumulai. Pembangunan yang ditaksir menelan anggaran sebanyak 89 miliar itu diperkirakan rampung pada Juli 2024.

Hubungi Jogja Konstruksi / Doma Living House

Peresmian Pasar Godean sudah dilakukan pada 28 Agustus 2024 lalu. Presiden Joko Widodo bersama Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama dengan Bupati Sleman Bu Kustini yang langsung meresmikan Pasar Godean tersebut. Kendati demikian, setelah peresmian tersebut pedagang yang direlokasi sementara enggan untuk pindah. Relokasi sementara ini berjarak satu kilometer ke Barat dari pasar Godean. Herat selalu Jurnalis senior dan kerap mengunjungi pasar bercerita, “Pedagang belum mau pindah, ada kesepakatan setelah lebaran 2025 ini,” jelasnya.

Enggannya pindah para pedagang ini disinyalir karena keraguan akan lahan parkir dan lokasi yang belum ditentukan sepenuhnya. Herat menambahkan ada keraguan akan luasan lahan parkir yang dianggap belum bisa menampung pengunjung yang akan datang, “Mereka takut untuk ke sana (Pasar Induk Godean) karena lahan parkirnya kurang,” tambah Herat. Meskipun begitu, sampai saat ini pembangunan lahan parkir dan relokasi kembali terencana dilakukan setelah lebaran 2025.

Bangunan Pasar Godean sendiri mengusung tema arsitektur lokal nusantara. Konsep yang diusung adalah sustainability building dan arsitektur nusantara. Keindahan Pasar Induk Godean dapat dilihat saat melintasi jalan Godean, posisi pasar ini berada di utara jalan Godean. Desain yang mengusung muatan lokal setempat dapat dilihat dari fasad pagar bumi di bagian depan dan atap yang digunakan. Pada pagar bumi dan atap menggunakan unsur Jawa dan kekratonan Yogyakarta. Atap menggunakan atap bertumpuk dan pagar bumi khas kekratonan Yogyakarta. Arsitektur berkelanjutan pun tak kalah jika dilihat dari desain dengan bukaan yang luas dan atap yang tinggi yang membuat Pasar Godean menjadi pasar dengan pemanfaatan udara dan pencahayaan alami yang baik. Herat menambahkan, “Pasar ini bagus dan nantinya akan jadi ikon di Godean.”

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Sampah Menumpuk di Teras Malioboro Jangan Buang Sembarangan Ada Bank Sampah

Jangan Buang Sembarangan Ada Bank Sampah

jogjakonstruksi.com – Sampah menumpuk di Teras Malioboro jangan buang sembarangan ada bank sampah. Masyarakat Jogja beberapa waktu terakhir kerap menjumpai masalah terkait sampah. Bukan sampah Masyarakat dalam arti harfiah, namun sampah sesungguhnya. Terakhir terakam gawai netizen ada tumpukan sampah di teras dua Malioboro. Masalah sampah tentunya membuat masyarakat Jogja cukup menggelengkan kepala. Masalah serupa terjadi tahun lalu yakni, tutupnya TPA piyungan karena sudah overload. kini, ada Bank Sampah yang merupakan solusi cerdas pemerintah berkolaborasi dengan masyarakat guna menyudahi masalah ini.

Masyarakat Jogja khususnya kini dihadapkan dengan masalah mengenai sampah. Sederhana namun sulit diatasi jelas Herat ketika mendengar isu ini “Masalah sampah memang sudah ada sejak dahulu, dan sampai saat ini belum ada solusi pintas, susah susah gampang.” jelasnya. Sampah yang diproduksi masyarakat Jogja perhari disinyalir mencapai 600 Ton. Masalah tersebut menjadi semakin keruh kendati tempat pembuangan akhir atau TPA di Piyungan sudah setahun ini tutup.

Hubungi Jogja Konstruksi / Doma Living House

Tempat pembuangan akhir di Piyungan sudah melebihi kapasitasnya dan resmi dinayatakan tutup pada Mei 2024 silam. TPA Piyungan adalah tempat pembuangan akhir untuk wilayah Jogja Kota, Sleman, dan Bantul (Kartamantul) dengan output terakumulasi diperkirakan mencapai 600 ton perhari. TPA ini sudah overload sejak 2012 lalu namun tetap dipaksakan beroprasi sampai 2024 silam. Herat sebagai masyarakat Jogja menceritakan mengenai TPA Piyungan yang dipaksa beroprasi meski overload. “Sudah over sejak 2012 beritanya seperti itu, namun sampai 2024 masih dipaksa.” tambahnya. 

Sampah menumpuk di Teras Malioboro jangan buang sembarangan ada bank sampah. Tutupnya TPA di Piyungan diikuti dengan berbagai masalah sampah yang timbul di Jogja, Sleman, dan Bantul. Baru-baru ini terdapat tumpukan sampah yang terekam smartphone netizen di bilangan Malioboro Yogyakarta (17/2/2025) yang membuat gempar warga net. Hal serupa juga banyak terjadi di kecamatan-kecamatan lain seperti di Mlati dan sekitarnya.’

Solusi dari Pemerintah dan pengamat lingkungan adalah dengan membuat bank sampah pada masing-masing RW di Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Bank sampah adalah solusi panjang untuk sekaligus mengedukasi masyarakat untuk mengolah sampah. Ibnu salah satu pengelola bank sampah di kota yogyakarta berpendapat bahwa program ini menguntungkan banyak pihak, “Bank sampah di sini selain distribusi juga untuk pengolahan limbah,” jelasnya.

pemilahan sampah organik dan anorganik yang dimaksud adalah dengan memisahkan sampah yang bisa didaur ulang dan tidak bisa didaur ulang

Solusi ini terbukti efektif, karena pada 2023 dan 2024 Kecamatan Wirobrajan dapat mengurangi jumlah sampah anorganiknya. Bank Sampah sudah dimulai sejak 2022 “keaktifan masyarakat juga dibutuhkan untuk memilah sampahnya sendiri.” jelas Ibnu. Permasalahan sampah di Yogyakarta juga dipengaruhi dari aspek masyarakatnya. Kesadaran Masyarakat akan pengolahan sampah mandiri dan mengurangi produksi sampah juga penting.

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Selokan Mataram Cagar Budaya Konstruksi Atasi Krisis Air Jogja

Selokan Mataram Cagar Budaya Konstruksi

jogjakonstruksi.com – Selokan Mataram cagar budaya konstruksi atasi krisis air di Jogja. Sejarah Selokan Mataram tak lepas dari penjajahan Jepang dan digdaya Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Selain sebagai percabangan sungai, selokan mataram juga mengusung ketahanan pangan masyarakat Jogja kala itu. Saat ini, selokan Mataram menjadi cagar budaya provinsi dan peranannya yang vital dalam distribusi air di Jogja.

Selokan Mataram memiliki sejarah yang panjang dan sangat lekat dengan masyarakat Jogja. Dibangun pada 1944 saat masa pendudukan Jepang. Selokan yang membentang sepanjang 34.5 kilometer tersebut terletak di antara dua provinsi yakni Jawa Tengah dan DIY. Selokan ini juga menghubungkan dua sungai besar yakni sungai Progo yang berada di Ngluwar dan sungai Opak yang berada di Kalasan. Titis sebagai Tim Doma sekaligus bermukim di Magelang menjelaskan, “Hulunya berada di Ngluwar Magelang dan hilirnya berada di Kalasan Sungai Opak,” jelasnya.

Hubungi Jogja Konstruksi / Doma Living House

Selokan ini dibangun pada masa pendudukan Jepang pada tahun Juli 1944 dan selesai pada Juli 1945. Pada tahun itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX berhasil meyakinkan pihak Jepang bahwa daerahnya atau DIY tidak bisa mencukupi kebutuhan pangan secara penuh. Diplomasi Sultan Hemengku Buwono yang berhasil membuat Jepang mau memberikan dana bantuan untuk pembuatan Selokan Mataram. 

Tujuan Selokan Mataram kala itu dibagi menjadi dua tujuan utama. Yakni, membangun saluran dan pintu air untuk mengatur air hujan dari daerah tergenang. Membangun saluran-saluran untuk mengalirkan air dari Sungai Progo ke daerah kering di Jogja.

Pembangunan Selokan Mataram dipimpin oleh Ir. KRT Martonegoro dari pohak Jogja dan Ir. Hiromatsu dari pihak Jepang. Pembangunan Selokan Mataram disinyalir menghabiskan dana sebensar 1.4 Gulden dan melibatkan 2.8 juta pekerja yang diberi upah. Karena banyaknya pekerja yang terlibat, maka itu juga alasan sultan untuk tidak mengirim pekerja romusha.

Selokan Mataram terus memberikan manfaat kepada masyarakat Yogyakarta. Selokan ini mampu mengaliri sekitar 15.800 hektar lahan pertanian terutama persawahan. Bahkan saat 1990 an Selokan Mataram juga digunakan masyarakat sebagai wadah perikanan.

Menilik bahwa Selokan Mataram tidak bisa dilepaskan dari budaya dan sejarah Yogyakarta, maka pada tahun 2010 Selokan Mataram ditetapkan menjadi cagar budaya. Diatur dalam undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang cagar budaya. Dewasa ini melalui Keputusan Gubernur Nomor 231/KEP/2021 menetapkan Selokan Mataram menjadi cagar budaya tingkat provinsi. 

Masyarakat harus lebih bangga dan menghargai sejarah dan cagar budaya misalnya Selokan Mataram ini. Herat sebagai jurnalis senior menambahkan keprihatinan akan banyaknya warga yang masih ada membuang sampah di sekitaran Selokan Mataram, “Sepatutnya kita warga Jogja menjaga kelestarian dan keindahan Selokan Mataram yang penuh dengan perjuangan ini,” pungkasnya.

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Eksplorasi Kotabaru Banyak Bangunan Tua Bersejarah

Eksplorasi Kotabaru Banyak Bangunan Tua Bersejarah

jogjakonstruksi.com – Eksplorasi kotabaru, banyak bangunan tua bersejarah. Kotabaru adalah kelurahan yang terletak di kecamatan Gondokusuman, Kota yogyakarta. Sejarah Kotabaru lekat dengan zaman penjajahan Belanda dan Jepang, yang menjadikan kota baru sebagai lokasi para petinggi Belanda. Bangunan pendukung pada saat itu hingga saat ini masih eksis dan menjadi daya tarik Kotabaru.

Hubungi Jogja Konstruksi / Doma Living House

Kelurahan Kotabaru berada di kecamatan Gondokusuman. Saat ini menjadi kawasan heritage dan penopang keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini tercantum pada perdais (peraturan daerah istimewa DIY).

Kotabaru memiliki sejarah yang cukup menarik untuk kita telisik lebih jauh. Pada mulanya Kotabaru didesain dengan konsep garden city. Garden city adalah konsep pengenbangan distrik yang memprioritaskan taman pada lingkungannya. 

Kotabaru pada sebelum kemerdekaan digunakan sebagai tempat tinggal elit eksklusif oleh petinggi Belanda. Tata kota yang berdasarkan konsep garden city pun, tak luput dari rencana pembangunan fasilitas bangunan pendukung. Di antaranya adalah Algemeene Middelbare School (AMS) kini menjadi Padmanaba SMA 3 Yogyakarta, Christeljike MULO School kini menjadi SMA BopkriI, Norma School kini menjadi SMP 5 Yogyakarta. 

Fasilitas kesehatan dan keagamaan juga sangat diperhatikan. Yakni, Rumah Sakit Petronella kini menjadi rumah sakit Bethesda. Gereja Kristwen dan disusul Gereja Katholik kini menjadi Gereja Kotabaru. 

Setelah Belanda meninggalkan Indonesia pada 1942, Kotabaru menjadi sedikit berubah. Awalnya menjadi kawasan elit dan tempat hunian eksklusif, kini banyak diubah menjadi wilayah militer dan arsenal Jepang. Gereja Kotabaru pada saat itu menjadi gudang senjata pasukan militer Jepang.

Pemerintah, masyarakat, dan swasta diharapkan ikut peduli dan mawas terhadap kondisi Kotabaru saat ini. Hal itu karena dilatarbelakangi gedung bersejarah saat ini yang masih kokoh berdiri, makin sedikit jumlahnya. Herat sebagai jurnalis senior Jogja mengatakan “Tinggal 45 persen kata dinas.”

Saat ini, Kotabaru menjadi cagar budaya kota Yogyakarta, dan termasuk kawasan penyokong Keistimewaan. Bangunan seperti Padmanaba, SMA Bopkri, Gereja Kotabaru, hingga masjid Syuhada pun menjadi bangunan bersejarah yang memiliki nilai historik unik.

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti 

Mengenal Skafolding untuk Konstruksi di Jogja

Mengenal Skafolding untuk Konstruksi

jogjakonstruksi.com – Mengenal skafolding untuk konstruksi di Jogja. Skafolding banyak dipakai pada pekerjaan konstruksi ringan hingga berat. Bambu masih banyak digunakan, tapi skafolding lebih diminati dewasa ini. Selain penggunaanya yang memudahkan pekerjaan di ketinggian, memakai skafolding juga lebih aman dan cepat.

Hubungi Jogja Konstruksi / Doma Living House

Sejarah skafolding (scaffolding) berawal sejak ribuan tahun yang lalu, digunakan dalam konstruksi bangunan besar, seperti piramida di Mesir kuno. Pada masa itu, skafolding terbuat dari bahan alami seperti kayu atau bambu yang digunakan untuk mendukung pekerja dan material bangunan selama proses pembangunan.

Guna skafolding pada konstruksi sangat penting untuk mendukung pekerja dalam melakukan pekerjaan di ketinggian, seperti pembangunan gedung bertingkat atau perbaikan bangunan. Skafolding memberikan akses yang aman dan stabil bagi pekerja, serta ruang untuk menempatkan peralatan dan material. Selain itu, skafolding juga berfungsi untuk memastikan kelancaran dan efisiensi proses konstruksi dengan menyediakan platform yang memungkinkan pekerja bergerak dengan mudah. 

Skafolding memiliki beberapa jenis yang digunakan sesuai dengan kebutuhan proyek konstruksi. skafolding berdiri (frame scaffold), yang sering digunakan untuk pekerjaan di luar ruangan, terdiri dari rangka logam berbentuk kotak atau panel dan platform kerja di atasnya. Jenis ini mudah dipasang dan sangat stabil, meskipun tidak cocok untuk area sempit. Skafolding tiang (tube and clamp scaffold) menggunakan pipa-pipa logam yang disambungkan dengan klamp (kunci), memberikan fleksibilitas untuk berbagai konfigurasi. Ini sering dipakai untuk pekerjaan di tempat yang membutuhkan bentuk skafolding khusus. Selain itu, ada scaffolding modul yang dirancang untuk efisiensi, dengan komponen-komponen yang dapat disusun untuk membentuk berbagai struktur.

Warna skafolding biasanya tergantung pada bahan dan fungsi, seperti warna hijau atau biru yang sering digunakan pada skafolding berbahan baja. Warna hijau biasanya berbahan alumunium sebagai pembeda dengan struktur lainnya dan melindunginya dari korosi atau kerusakan.

Mengenal skafolding untuk konstruksi di jogja sangat penting. Penggunaan skafolding yang tepat dapat mengurangi risiko kecelakaan kerja. Penggunaan skafolding dan mempercepat penyelesaian proyek, menjadikannya elemen vital dalam proyek konstruksi yang melibatkan struktur tinggi atau sulit dijangkau.

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Copyright © 2026 Jogja Konstruksi-Rumah Sempit Terasa Nyaman Gratis Konsultasi dan Survey +62 813-8453-4855