jogjakonstruksi.com – Menjamurnya mal di Jogja akselerasi perkembangan urban dan peri urban. Pertumbuhan ritel modern atau mal di Jogja beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan signifikan wajah kota. Keberadaan mal tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota, tetapi juga tersebar hingga wilayah pinggiran yang masuk dalam kategori kawasan peri-urban.
Fenomena ini cerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi, perubahan pola konsum publik, juga pergeseran fungsi ruang dari agraris ke komersil. Lagi, perkembangan tersebut memunculkan tantangan baru terkait tata ruang, kemacetan lalu lintas, dan sustainability lingkungan di kawasan Jogja secara luas.
Mal Indikator dan Dorong Perkembangan Urban serta Peri Urban Jogja
Jogja yang selama ini dikenal sebagai Kota Budaya, pendidikan, dan pariwisata kini semakin bergeser menjadi kota urban. Kota urban dengan aktivitas ekonomi berbasis jasa dan konsumsi tinggi. Ritel atau mal baru banyak hadir dengan konsep modern dan multifungsi yang gabungkan ruang belanja, hiburan, kuliner, hingga ruang publik. Kondisi ini perlihatkan adanya pergeseran gaya hidup masyarakat yang semakin dekat dengan gaya urban, sekaligus jadi indikator meningkatnya daya beli dan arus investasi di Jogja.
Daerah Sleman di selatan juga timur, kini mulai berkembang sebagai sentra pusat ekonomi baru. Pembangunan mal di kawasan ini dorong cepatnya urbanisasi, di mana wilayah yang sebelumnya didominasi rumah dan tanah tani berubah menjadi kawasan komersial dan hiburan. Meluasnya aktivitas kota ke peri-urban ini menunjukkan bahwa pertumbuhan Jogja tidak lagi bersifat sentralistik, melainkan menyebar mengikuti jaringan jalan, kepadatan penduduk, dan permukiman peri-urban warga Jogja.
Bisa jadi Kedepan Ruang Agraris sebagai Ruang Komersil Ubah Wajah Kota Budaya
Ini adalah respons atas meningkatnya aktivitas juga perubahan pola hidup masyarakat Jogja. Lebih jauh, pergeseran fungsi ruang dari agraris ke komersial yang terjadi dewasa ini. Masyarakat tidak lagi jadikan pasar tradisional sebagai satu-satunya pusat transaksi, melainkan beralih ke opsi ruang modern yang menawarkan kenyamanan dan pengalaman belanja baru. Lagi, alih fungsi lahan yang luas akan jadi perhatian khusus karena mengurangi RTH dan lahan produktif di Jogja. Transformasi ini jadi penanda kuat bahwa Jogja tengah berada dalam fase transisi dari kota berbasis budaya menuju kota urban dengan dinamika kompleksnya.
Meningkatnya jumlah mal linear dengan bertambahnya kognitif kendaraan sirkulasi, seperti lalu lintas variabel saat jam sibuk dan akhir pekan. Lagi, tanpa perencanaan matang dan berkelanjutan, pertumbuhan pesat ini berpotensi menggerus identitas Jogja sebagai Kota Budaya serta menimbulkan persoalan lingkungan jangka panjang.
Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami
Penulis : Ibnu Candra Hakim
Editor : Haqqina Jasmine Rahmatika



