Konstruksi Galvalum Panas
jogjakonstruksi.com – Rumah di jogja ganti atap pakai galvalum terasa panas. Galvalum biasanya digunakan untuk konstruksi atap dan sebagai pengganti genteng konvensional. Tren penggunaan konstruksi atap menggunakan galvalum pada bangunan rumah di Yogyakarta yang notabene cukup panas justru semakin meningkat. Hal ini disebabkan terutama karena biayanya lebih terjangkau dan waktu pengerjaan yang relatif cepat. Namun, sejumlah warga mulai mengeluhkan dampak dari material tersebut, terutama suhu panas yang terasa di dalam rumah saat siang hari.
Mengenal galvalum, bahan logam campuran antara aluminium dan seng, dikenal ringan dan tahan karat. Karena itulah, banyak pengembang perumahan dan masyarakat umum memilihnya sebagai alternatif rangka atap atau bahkan sebagai struktur utama bangunan. Galvalum dinilai menjadi pengganti atap konvensional seperti genteng tanah liat atau genteng beton. Meski demikian, galvalum juga memiliki kekurangan, terutama dalam hal isolasi panas.
Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami
Tren penggunaan galvalum sebagai pengganti atap ini mulia marak digunakan akhir-akhir ini. Struktur penyangga galvalum juga biasanya terbuat dari metal karena instalasinya akna menggunakan baut. Kerangka baja ringan dipilih karena pemasangannya yang cepat dan sangat cocok untuk galvalum. Titis pelaksana Doma menjelaskan bahwa penggunaan galvalum dan kerangka baja ringan sudah sangat banyak digunakan. “Hampir semua saat ini memilih baja ringan dan galvalum agar cepat selesai. Pemasangannya mudah dan presisi,” jelas Titis.

Rumah di Jogja Ganti Atap Pakai Galvalum Terasa Panas
Beberapa solusi yang disarankan antara lain menggunakan lapisan aluminium foil di bawah atap, memasang plafon tambahan, atau menambahkan tanaman hijau di sekitar rumah untuk membantu menurunkan suhu. Pemerintah daerah dan pelaku industri konstruksi pun diharapkan memberikan edukasi lebih lanjut kepada masyarakat tentang kelebihan dan kekurangan material ini, agar pembangunan rumah tetap nyaman dan berkelanjutan di tengah cuaca tropis seperti di Yogyakarta.
Penulis : Ibnu Candra Hakim
Editor : Sanditha Setya Wisaksanti







