Titik Nol Dijadikan Pusat Wisata Jogja?
jogjakonstruksi.com – Kenapa Titik Nol Dijadikan Pusat Wisata Jogja? Titik Nol merupakan penamaan wilayah di bagian simpang empat dekat dengan Kraton Yogyakarta. Titik Nol memiliki sejarah yang sangat melekat dengan Keraton Yogyakarta dan landscape Jogja. Kini, titik nol menjadi destinasi wajib bagi wisatawan lokal hingga mancanegara saat mengunjungi Yogyakarta. Perawatan secara berkala mengenai fasilitas di seputaran titik nol juga kerap dilakukan.
Hubungi Jogja Konstruksi / Doma Living House
Titik nol saat ini masih belum sepenuhnya diketahui oleh wisatawan yang mengunjungi Jogja. Wisatawan masih banyak yang beranggapan bahwa titik nol adalah Keraton Jogja, Alun-alun, ataupun Tugu Jogja. Hal ini tidak mengherankan karena memang tidak ada nama resmi mengenai titik nol Jogja.

Penamaan titik nol saat ini adalah buntut panjang dari sejarah yang ada di Yogyakarta. Nama ini diambil karena saat itu pada tahun 1970 hingga 1980 ada air mancur pada lokasi ini. Adapula yang menyebutkan bahwa titik nol merupakan garis imejiner garis vertikal utara-selatan, pertemuan antara keraton Yogyakarta, Gunung Merapi, dan Laut Selatan.
Menurut beberapa warga titik nol adalah pertemuan dari Jalan Khiayi Ahmad Dahlan di Barat, Jalan Malioboro di Utara, Jalan Panembahan Senopati disisi Timur, dan Jalan pengurakan di sisi Selatan. Herat sebagai jurnalis senior pada era 90 an menerangkan “Memang perempatan itu (titik nol) pertemuan jalan besar dan ramai sedari dulu.” Jelas Herat.
Wisatawan lokal maupun mancanegara memadati titik nol hampir dua puluh empat jam. Alasan yang memprakarsai adalah karena aksesnya yang dekat dengan beberapa objek wisata. Titik nol berada di Utara Kraton Yogyakarta, Selatan Jalan Malioboro, Timur Taman Pintar, serta diapit oleh dua gedung Belanda yakni gedung BNI dan Kantor Pos.
Perawatan secara berkala juga dilakukan oleh pemerintah. Kuatnya daya tarik titik nol Jogja menyebabkan pemerintah kota dan daerah fokus berbenah untuk perawatan daerah ini. Selain menjadi tempat berkumpul titik nol juga menjadi lahan basah untuk pedagang kaki lima di Jogja. “Selain meningkatkan devisa daerah, titik nol juga menjadi devisa masyarakat sekitar.” Tambah Herat saat kami wawancarai.
Penulis : Ibnu Candra Hakim
Editor : Sanditha Setya Wisaksanti















