Tukang Biasa dan Tenaga Profesional Ada Bedanya
jogjakonstruksi.com – Tilik perbedaan profesional dan tukang konvensional di Jogja. Di tengah pesatnya pembangunan kos-kosan, perumahan, dan renovasi bangunan di Yogyakarta, masyarakat kini dihadapkan pada dua pilihan utama dalam menggunakan jasa konstruksi. Tentu saja, yaitu menggunakan tenaga profesional atau tukang biasa. Meski keduanya memiliki keahlian di bidang konstruksi, perbedaan dalam kualitas, harga, hingga tanggung jawab kerja menjadi pertimbangan utama bagi para pengguna jasa.
Pemilihan kedua opsi ini menjadi sulit karena kurangnya pengetahuan umum dan edukasi di masyarakat. Serta, adanya stigma negatif menggunakan tenaga profesional atau kontraktor yang dianggap banyak kejanggalan. Terlebih lagi, SNI dan peraturan daerah yang mengharuskan masyarakat memiliki data dan perhitungan akan huniannya kini menjadi momok yang hanya bisa dikeluarkan oleh tenaga profesional.
Jogja dan Pembangunan Pesat Peran Tenaga Profesional dan Tukang Konvensional
Pertumbuhan sektor properti dan renovasi di DIY semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini mendorong meningkatnya kebutuhan masyarakat akan jasa konstruksi, baik untuk pembangunan rumah baru, renovasi, maupun desain interior. Namun, banyak warga yang masih bingung membedakan antara tenaga profesional dan tukang biasa.

Pada proses pembangunan, tenaga profesional dan tukang konvensional juga memiliki perbedaan signifikan. Menurut Pomo, seorang arsitek, kontraktor, dan konsultan bangunan di Jogja, tenaga profesional biasanya memiliki latar belakang pendidikan formal seperti teknik sipil, arsitektur, atau desain interior. Tenaga profesional ini tergabung dalam organisasi resmi seperti IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) atau PII (Persatuan Insinyur Indonesia). “Mereka tidak hanya merancang, tapi juga memahami struktur bangunan, estetika, hingga efisiensi biaya jangka panjang,” tutur Pomo.
Sementara itu, tukang konvensional cenderung bekerja berdasarkan pengalaman lapangan, tanpa sertifikasi atau pendidikan formal. Tukang konvensional biasanya mengandalkan kemampuan praktik yang sudah diturunkan secara turun-temurun, atau diperoleh dari pengalaman langsung di lapangan. Meski terampil, seringkali mereka bekerja tanpa perencanaan teknis mendalam. Erik menambahkan, biasanya ada kemampuan teknis yang kadang tukang tidak dapat untuk memecahkan masalah baru. “Tukang akan kesulitan dengan material baru dan metode baru, harus bertanya,” Jelas Erik
Perbedaan lainnya adalah dari segi harga dan sistem kerja. Tenaga profesional biasanya memberikan estimasi biaya lengkap, gambar kerja, dan timeline proyek. Mereka juga menawarkan kontrak kerja yang jelas (MoU) dan tanggung jawab hukum jika terjadi kesalahan struktur. Sementara itu, tukang biasa umumnya bekerja secara harian atau borongan tanpa perencanaan detail.
Salah satu owner proyek Doma, Yoga (46), mengaku pernah kecewa saat hanya mengandalkan tukang biasa tanpa arahan profesional, karena pekerjaan lama dan komunikasi yang tidak terjaga. “Saya kira murah, tapi ternyata hasilnya tidak presisi, dan harus dibongkar ulang. Akhirnya malah keluar biaya berkali-kali lipat dan terkesan menyepelekan,” imbuh Yoga.
Pemerintah Dorong Tenaga Profesional dan Edukasi Publik Penggunaan Tenaga Profesional Ganti Tukang Konvensional
Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas PUPR juga mendorong penggunaan tenaga profesional, terutama untuk pembangunan gedung-gedung publik atau rumah bersubsidi, guna menjamin standar keamanan bangunan. Administrasi semacam PBG juga izinnya harus menggunakan tenaga profesional yang sudah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan Peraturan serta Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021 tentang Bangunan Gedung.
Tilik perbedaan profesional dan tukang konvensional di Jogja. Masyarakat juga diimbau untuk menyesuaikan pilihan jasa konstruksi dengan skala dan kebutuhan proyek. Menggabungkan peran tenaga profesional untuk perencanaan dan pengawasan dengan tukang berpengalaman untuk pelaksanaan teknis bisa menjadi solusi terbaik. Juga, dengan edukasi publik untuk menggunakan jasa profesional dan eliminasi stigma buruk tidak mendasar mengenai jasa kontraktor terutama di Jogja.
Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami
Penulis : Ibnu Candra Hakim
Editor : Sanditha Setya Wisaksanti




