Tonggak Sejarah Hingga Budaya Kota Madya dan Kota Kabupaten
jogjakonstruksi.com – Sejarah arsitektur beda kota madya dan kota kabupaten Jogja. Sejarah terbentuknya kota madya dan kota kabupaten tak lepas dari sejarah dan perkembangan Yogyakarta. Perkembangan geografis ini tak lepas dari frasa pribumi dan non pribumi. Tata kota dan bentuk kota dipengaruhi dari perencanaan kota tersebut yang akan menjadi pembeda di antara keduanya. Signifikan perbedaanya hingga saat ini menjadi studi yang terus dipercangkan antara urban dan rural.
Sejarah terbentuknya kota kabupaten, sebutlah kota kabupaten Sleman dan Bantul tak lepas dari penjajahan era Belanda. Kota kabupaten di DIY awalnya adalah kota yang dibentuk dari pribumi sendiri ataupun pribumi dari Kota Yogyakarta. Kota yang dibangun berdasarkan kebutuhan masyarakat kala itu. Arsitektur kota pada kota kabupaten juga terkesan dibuat dengan mengikuti aliran sungai. Berbeda dengan kota madya yang developmentnya berbalik 180 derajat.
Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami
Kota Madya sendiri atau kita sering sebut dengan urban adalah kota yang dahulunya dibangun dan dikhususkan untuk warga Belanda dan pemerintahan Belanda. Maka bisa dilihat, dari bentuk tata kota dan letak jalannya yang ditata menggunakan sistem grid dan centre. Ibnu sebagai pengamat yang pernah meneliti perkembangan kota Yogyakarta berpendapat bahwa, Kota Yogyakarta dengan tata kota dan perencanaan kota berbentuk grid sehingga memudahkan pemetaan dan sirkulasi secara kompleks. “Yogyakarta, adalah kota yang ditata oleh pemerintahan Belanda dan insinyur Belanda, oleh karena itu tata kotanya rapi dan berbentuk grid berbeda dengan kota kabupaten,” jelas Ibnu.

Kontras dengan apa yang terjadi di kota kabupaten. Kota kabupaten, tidak dirancang oleh insinyur Belanda dan notabene hanya diduduki oleh penduduk pribumi yang menata lahannya secara mandiri. Ibnu berkata, kota kabupaten memiliki beberapa ciri khas yakni, aliran air yang masih terbuka serta dukungan terhadap pertanian pada setiap sektor mikronya. “Kota kabupaten, memiliki bentuk yang tidak simetris atau berbentuk bebas, dengan adanya aliran air untuk irigasi persawahan, serta dukungan terhadap akses hewan ternak. Hal-hal ini yang membuatnya berbeda dari kota kota madya,” Jelas Ibnu.
Memaknai kota madya dan kabupaten tak lepas oleh pemerintahan kolonial. Dirujuk dari desain, banyak hal yang bisa dijadikan rujukan terkait metode apa saja yang menunjukkan perbedaan secara administratif dan geografis. Tapi jika dirujuk dari sejarah banyak hal baru yang membentuk perbedaan dikeduanya. Keilmuan yang terus berkembang membuat perbedaan kedua kota itu menjadi kebutuhan madani saat ini tidak hanya di Daerah Istimewa Yogyakarta tapi juga di seluruh Indonesia. Menjadikan perkembangan teori urban dan rural menjadi perbedaan yang menarik dan berbeda dari setiap perkembangan kota di dunia.
Penulis : Ibnu Candra Hakim
Editor : Sanditha Setya Wisaksanti








