jogjakonstruksi.com – Rumah Pocong Sumi bangunan Indische dan sejarah arsitektur Jogja. Di balik sebutan ikonik dari cerita mistis ini, bangunan ini memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang unik. Bangunan yang dikenal dengan nama Omah Indische itu disebut telah berdiri sejak sekitar 1860-an dan pernah menjadi bagian dari sejarah keluarga di Kotagede, Jogja. Seiring waktu, bangunan tua ini mengalami masa kosong dan kerusakan, termasuk efek gempa 2006. Meski demikian, Rumah Pocong Sumi masih bertahan sehingga keberadaannya menjadi bagian dari warisan arsitektur lama di kawasan Kotagede.
Sejarah Rumah Pocong Sumi
Nama Rumah Pocong Sumi banyak dikenal masyarakat melalui cerita mengenai keberadaan sosok mistis yang disebut Sumi. Julukan ini sejatinya lebih populer karena cerita yang berkembang di masyarakat, sementara bangunan ini memiliki sejarah yang jauh lebih panjang. Tak sekadar bangunan angker, melainkan rumah Indische peninggalan Belanda. Rumah ini diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1860 dan dimiliki oleh keluarga Atmosudigdo. Pada masanya, bangunan rumah Indische ini dikenal sebagai salah satu hunian kolonial paling megah di Kotagede, Jogja.
Bangunan Indische sendiri berkaitan dengan perkembangan arsitektur di Hindia Belanda yang mempertemukan unsur arsitektur Eropa dengan tropis Indonesia. Karakter tersebut dapat dilihat dari upaya bangunan menyesuaikan diri dengan iklim setempat. Baik melalui bukaan lebar, ruang yang lapang, maupun elemen arsitektur yang mendukung sirkulasi udara. Pada zamannya, rumah Indische seperti ini, tak hanya jadi tempat tinggal, pun menunjukkan perkembangan gaya hidup dan arsitektur masa kolonial. Nah, Rumah Pocong Sumi jadi salah satu contoh bangunan yang merekam perkembangan tersebut di kawasan Kotagede.
Bangunan Lama dan Tantangan Ketika Lama Tidak Dihuni
Setelah keluarga pemilik pindah keluar kota, bangunan tersebut lama dibiarkan kosong. Ini membuat bangunan mengalami penurunan kondisi secara perlahan. Terutama karena minimnya perawatan dalam jangka waktu yang lama. Kerusakan kemudian semakin terasa setelah gempa besar di Jogja pada tahun 2006 yang turut berdampak pada sejumlah bagian bangunan. Meski demikian, beberapa elemen rumah masih bertahan hingga sekarang dan menjadi bagian penting dari jejak sejarah bangunan tersebut.
Keberadaan elemen-elemen lampau yang masih bertahan menunjukkan bahwa bangunan bersejarah tak selalu harus dilihat dari kondisi utuhnya saja. Detail arsitektur, struktur, maupun elemen ruang yang tersisa dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana bangunan tersebut mengenai dirancang dan digunakan pada masanya. Maka dari itu, perawatan dan pemanfaatan kembali bangunan lama menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga karakter kawasan bersejarah seperti Kotagede.
Menjaga Bangunan Tua di Tengah Perkembangan Jogja
Pertumbuhan pembangunan di Jogja membuat isu pelestarian bangunan tua jadi penting. Kota berkembang membutuhkan hunian, fasilitas komersial, ruang publik, dan infrastruktur baru. Namun, perkembangan tersebut berjalan berdampingan dengan bangunan yang telah menjadi bagian dari sejarah kota Jogja. Oleh karenanya, pendekatan konstruksi modern dapat diarahkan bukan hanya pada orientasi bangun baru, tetapi juga adaptive reuse pada bangunan yang masih punya nilai.
Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami
Penulis : Haqqina Jasmine Rahmatika
Editor : Yulia Nurwita Ningrum




