jogjakonstruksi.com – Mitos rumah dan gedung nomor 4 dan 13 ilmiah konstruksinya. Angka 4 dan 13 adalah hal menarik dalam dunia konstruksi. Di sejumlah gedung bertingkat, hotel, rumah sakit, sampai rumah huni, angka ini sering tidak dicantumkan pada penomoran lantai maupun unit. Kejadian ini berkaitan dengan mitos terhadap angka tertentu yang dianggap sial.
Ketika Mitos Masuk ke Keilmuan Arsitektur
Tidak adanya lantai 4 dan 13 pada sebuah gedung sebenarnya tidak berarti bahwa struktur bangunan tersebut salah. Melainkan, pandangan terhadap angka tertentu berkembang dari kepercayaan dan kebiasaan masyarakat di berbagai budaya. Angka 4 misalnya, dianggap kurang baik dalam budaya China karena pelafalanya terdengar mirip dengan kata kematian. Sementara itu, angka 13 lebih dikaitkan dengan kepercayaan sial bagi orang Barat khususnya di Amerika. Oleh karena itu, sebagian gedung bertingkat, hotel, rumah sakit, dan bandara memilih tidak menggunakan angka 13 untuk penomoran.
Pandangan mitos ini adalah kepercayaan antara budaya yang berkembang di masyarakat dengan aspek teknis bangunan yang dapat diuji melalui ilmu arsitektur, sipil, dan K3 konstruksi. Kepercayaan terhadap angka tertentu biasanya terbentuk dari kebiasaan dan pemaknaan yang berkembang di masyarakat. Pandangan tersebut kemudian berpengaruh pada penomoran lantai maupun unit bangunan. Namun, kepercayaan terhadap angka tidak menjadi dasar dalam menentukan kekuatan dan keamanan struktur bangunan.
Mitos Tidak Mengubah Kekuatan Struktur Bangunan
Dari perspektif konstruksi, angka pada lantai tidak menentukan kemampuan struktur dalam menahan beban. Sebuah lantai yang diberi nama 3A tetap memiliki elemen struktur yang dirancang berdasarkan perhitungan teknis, seperti plat lantai, balok, kolom, dinding struktural apabila digunakan, pondasi, serta sistem penahan beban lainnya. Demikian pula lantai yang secara fisik berada pada posisi setelah lantai 12 tetap memiliki karakteristik struktural yang ditentukan oleh desain dan spesifikasi teknis, bukan oleh apakah lantai tersebut diberi label 13 atau 14.
Kekuatan bangunan ditentukan melalui perencanaan struktur, pemilihan material, kualitas pengerjaan, dan berbagai aspek teknis lainnya. Penerapan keselamatan kerja atau K3 juga menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan selama proses pembangunan. Artinya, mengganti angka 4 menjadi 3A atau menghilangkan angka 13 tidak mengubah struktur fisik bangunan. Penomoran tersebut lebih merupakan bentuk penyesuaian terhadap kepercayaan atau kenyamanan pengguna, sedangkan dari segi konstruksi kekuatan bangunan tetap bergantung pada perencanaan dan pelaksanaan konstruksinya.
Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami
Penulis : Yulia Nurwita Ningrum
Editor : Haqqina Jasmine Rahmatika




