jogjakonstruksi.com – Kebakaran Rumah Sade Lombok meluas pelajaran penting cegah kebakaran di Jogja. Kebakaran yang melanda Kampung Adat Sade, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, jadi tamparan bersama tentang risiko kebakaran di rumah.
Ini terutama di kawasan dengan bangunan yang berdiri berdekatan dan menggunakan material yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan. Hingga artikel ini ditulis, proses penanganan masih berlangsung dan penyebab kebakaran pun belum dapat dipastikan dan masih dilakukan penanganan di lokasi tersebut.
Rumah Kampung Adat Sade
Kampung Adat Sade dikenal sebagai permukiman tradisional masyarakat sasak yang mempertahankan arsitektural, bentuk, dan material. Rumah adat ini menggunakan kayu, anyaman bambu atau Kita menyebutnya gedek. Material tersebut memiliki nilai budaya tinggi dan jadi bagian dari identitas arsitektur tradisional Sade di Lombok. Tapi, karakteristik bahan organik ini Saya mengidentifikasi mudah terbakar dan perlu jadi pengamatan penting dalam mitigasi dan strategi penanggulangan kebakaran.
Case ini menunjukan bahwa risiko kebakaran tidak hanya berkaitan dengan sumber api, tapi juga pada karakter bangunan, material konstruksi, kondisi listrik, sampai kesiapan pengguna saat keadaan kebakaran terjadi. Di permukiman padat, api yang muncul pada satu bangunan dapat mudah merambat ke bangunan lain apabila terdapat material yang mudah terbakar dan jarak bangunan sangat dekat. Oleh karenanya, pencegahan kebakaran perlu dirancang sejak tahap perencanaan dan konstruksi.
Mengapa Kebakaran Cepat Meluas di Lombok
Kebakaran bangunan pada dasarnya punya tiga unsur utama, yakni sumber api, bahan bakar api, dan oksigen bahan bakar api. Apabila ketiganya bertemu dalam kondisi yang memungkinkan, api bisa membesar. Pada case umum, sumber api dapat berasal dari instalasi listrik, alat dapur, lampu cahaya, peralatan elektronik, maupun sumber api lainnya yang terjadi. Lagi, bahan bakar dapat berupa material pasang seperti, kayu, plastik, kertas, dan berbagai perabot rumah tangga.
Risiko lebih besar ketika menggunakan banyak komponen material yang mudah terbakar. Pada case ini kayu, bambu, jerami, atau material organik lainnya dapat mempercepat perkembangan api, apabila terkena variabel lainnya. Namun, hal tersebut tidak berarti rumah berbahan tradisional pasti lebih mudah terbakar jika dibandingkan bangunan modern. Tingkat risiko tetap dipengaruhi desain, konstruksi, detail, pemeliharaan, jalur kelistrikan, APAR, dan tata bangunan holistik.
Menjadikan Kebakaran di Sade sebagai Pelajaran di Jogja
Kebakaran di Sade dapat jadi pengingat untuk menaikkan perhatian terhadap keselamatan kesehatan rumah seluruh Indonesia juga di Jogja. Penerapan prinsip keselamatan dapat dimulai dari desain rumah, material, instalasi listrik, dan pengaturan jarak, hingga edukasi user dalam potensi kebakaran. Pendekatan ini penting seiring bertambahnya kepadatan permukiman di Jogja.
Kebakaran di Sade akhirnya memberikan satu pelajaran penting, yakni, keselamatan bangunan harus direncanakan sebelum api muncul. Desain yang tepat, instalasi aman, material dipilih cermat, akses apar, juga kesiapan pengguna bisa meminimalisir risiko kebakaran, dan menekan dampak lebih jauh. Di Jogja, prinsip tersebut ini krusial dalam implementasi hunian yang tidak hanya nyaman, juga tahan lama. Lebih jauh dan utama yaitu aman bagi penghuninya. Kami semua prihatin atas kejadian ini, selalu berharap dan berdoa agar seluruh korban diberi ketabahan serta kesabaran. Aamiin.
Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami
Penulis : Ibnu Candra Hakim
Editor : Haqqina Jasmine Rahmatika




