Jogjakonstruksi.com – Green building di Jogja tren pembangunan berkelanjutan. Kesadaran terhadap isu sustainability di Jogja kian mendorong penerapan desain green building dalam berbagai proyek. Arsitek dan kontraktor kini mulai mengintegrasikan prinsip ramah lingkungan untuk mengurangi emisi sekaligus menekan konsumsi energi. Perguruan tinggi dan ahli turut mempercepat adopsi teknologi hijau melalui riset, inkubasi vertikal, dan program edukasi publik. Kondisi ini diprediksi akan mengubah wajah lanskap kota dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.
Penerapan Green Building Mulai dari Ahli hingga Masyarakat Muda di Jogja
Beberapa tahun terakhir, banyak proyek pembangunan hotel, co-working space, fasum, hingga hunian vertikal di Jogja yang menerapkan konsep ini. Mulai dari sistem sirkulasi udara alami, pemanenan air hujan, penggunaan material lokal, dan desain pasif yang memanfaatkan cahaya matahari tropis. Tren ini tak hanya didorong oleh regulasi lingkungan, tetapi juga meningkatnya preferensi generasi muda terhadap bangunan yang efisien. Bangunan yang sehat dan memiliki daya tahan jangka panjang menjadi kunci sustain.
Sejumlah arsitek muda di Jogja mulai merancang bangunan dengan pendekatan desain biofilik dan konsep Net Zero Energy. Konsep pendekatan seperti penggunaan panel surya atap hijau yang berfungsi sebagai isolator termal serta sistem pengendali suhu dikalibrasi dari perilaku pengguna. Dengan pendekatan ini, bangunan tak lagi hanya dianggap sebagai objek fisik, melainkan ekosistem energi yang dinamis dan responsif terhadap kondisi iklim tropis lembap khas tropis di Jogja.
Pendekatan Pembangunan Berkelanjutan dengan Konsep Green Building dari Ahli Turun ke Masyarakat hingga Praktisi Konstruksi
Banyak fakultas teknik dari berbagai universitas dan ahli yang menaungi Ruang Kolaborasi Hijau secara aktif menyelenggarakan lokakarya terbuka dan diskusi mengenai pembangunan berkelanjutan. Mulai dari simulasi digital analisis termal, hingga Hackathon energi terbarukan yang melibatkan pelajar, UMKM, hingga pelaku konstruksi seperti Doma. Erik mengatakan, banyak prototipe yang lahir dari ekosistem ini. Termasuk modul fasad adaptif berbahan bambu olahan serta mikroklimat berbasis IoT yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat urban hingga rural. “Jelas dari diskusi dan riset yang terjadi dikalangan ahli hingga masyarakat banyak menghasilkan prototipe, seperti fasad bambu dan sensor mikroklimat tentunya,” imbuh Erik.
Jika tren ini terus berlanjut dan mendapat dukungan kebijakan fiskal serta insentif pemerintah daerah, wajah Jogja sebagai Kota Pelajar dan Kota Budaya diperkirakan akan berkembang menuju sustainable heritage city. Di mana, ini menggabungkan pertumbuhan ekonomi kreatif dengan prinsip konservasi ekologis. Para pengamat menilai bahwa transisi tersebut bukan hanya soal efisiensi energi, tetapi redefinisi masa depan kota yang relevan dengan krisis iklim global sekaligus tetap mempertahankan identitas lokal.
Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami
Penulis : Ibnu Candra Hakim
Editor : Haqqina Jasmine Rahmatika




