Bata Vulkanik Gunung Merapi Digunakan Masjid Merapi Jogja

Bata Vulkanik Gunung Merapi Digunakan Masjid Merapi Jogja

jogjakonstruksi.com – Bata vulkanik gunung merapi digunakan masjid merapi Jogja. Inovasi bahan bangunan sangat maju dewasa ini. Masjid Merapi termasuk salah satunya yang menggunakan bata dari bahan abu vulkanik Merapi. Pemanfaatan limbah atau vernakular menjadi sesuatu gaya arsitektural yang mulai diminati. Bata ini merupakan campuran dari abu Merapi dan beberapa campuran yang diusulkan Ridwan Kamil. Penawaran desain masjid ini mengalami penolakan awalnya, namun setelah adanya edukasi dan sosialisasi akhirnya masyarakat menerima.

Hubungi Jogja Konstruksi / Doma Living House

Inovasi bahan bangunan menjadi sesuatu yang diwajibkan dalam dunia konstruksi. Mulai dari pemanfaatan limbah ataupun pemanfaatan material laik pakai. Konsentrasi lingkungan dan bangunan hijau menjadi dasar kuat pemikiran ini. Dunia akademisi dosen dan mahasiswa universitas selalu melakukan inovasi dan bahan terbarukan yang ramah lingkungan untuk mengganti bahan saat ini. “Penelitian IBB (ilmu bahan bangunan) sangat didukung oleh dikti.” jelas Erik yang saat itu menjadi mahasiswa salah satu universitas di Yogyakarta.

Masjid Merapi dibangun pada tahun 2011 setahun setelah erupsi merapi terjadi pada tahun 2010. Masjid ini dibangun di kecamatan Tempel dekat dengan Gunung Merapi. Ridwan Kamil adalah arsitek dari masjid ini, dengan menerapkan vernakular.

Vernakular merupakan gaya berarsitektur dengan memanfaatkan bahan di sekitar lingkungan bangunan. Abu Merapi digunakan sebagai bahan dari bata yang akan digunakan pada pembangunan masjid. Pimilihan abu Merapi dirasa pas karena masjid ini akan berada di kaki gunung Merapi yaitu kecamatan Tempel. Praktis, saat 2010 terjadi erupsi gunung Merapi, dan abu Merapi dirasa baik sebagai bahan campuran bata.

Usulan desain Ridwan Kamil yang saat itu tidak menggunakan kubah sempat ditolak oleh masyarakat. Masyarakat masih ingin memakai kubah, mengingat desain masjid tanpa kubah belum begitu populer atau banyak digunakan di wilayah Indonesia. Akhirnya Ridwan Kamil mencoba menggunakan atap bertumpuk tiga sebagai percampuran adanya gaya Jawa pada desain masjid ini. Masyarakat menerima usulan desain tersebut dengan penggunaan bata abu Merapi yang disusun berlubang-lubang dan kubah atap bertumpuk. 

Penggunaan bata dengan lubang ini diharapkan menjadi inisiasi efisiensi energi. Jumlah lubang yang banyak memungkinkan sirkulasi udara yang lancar dan pencahayaan alami pada sisi dalam masjid. Serta fasad yang berlubang membuat fasad masjid menjadi minimalis dan modern. Meski masjid ini menjadi program CSR, namun sampai saat ini keunikan pembangunan dan desainnya menjadi cerita tersendiri di dunia arsitektur di Yogyakarta.

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Jogja Konstruksi-Rumah Sempit Terasa Nyaman Gratis Konsultasi dan Survey +62 813-8453-4855