Masjid Sela Keraton Jogja Desain Budaya Arsitek Portugis

Desain Budaya Islam oleh Arsitek Portugis

jogjakonstruksi.com – Masjid Sela Keraton Jogja desain budaya arsitek Portugis. Masjid Sela berada di wilayah Keraton Yogyakarta dan dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubowono I. Tersebar rumor, masjid ini didesain oleh arsitek asal Portugis. Sempat tidak berfungsi menjadi tempat ibadah karena pangeran-pangeran mulai pindah ke bangunan utama keraton. Usai renovasi mikro, masjid Sela tetap pertahankan aristektur asli Islam Jawa kental.

Nama Masjid Sela berarti batu yang berhubungan langsung dengan proses pembangunan hingga metode pada konstruksi masjid ini. Desain unik dengan pintu rendah terpampang dengan maksud tetap lestarikan budaya. Kolam di samping kanan kiri serambi masjid juga turut menghiasi desain luar yang mendapat aliran langsung dari Kali Winongo. Masjid Sela mampu menampung hingga sebanyak 30 jamaah, namun jika dilibatkan dengan bangunan rumah utama, bisa mencapai hingga 80 jamaah. Sampai saat ini Masjid Sela masih digunakan untuk sholat berjamaah fardhu dan kegiatan keagamaan lainnya.

Masjid Sela Jogja Gabungkan Budaya dan Islam Secara Harmoni Oleh Arsitek Portugis

Bertempat di kecamatan Keraton Panembahan yang berbatasan langsung dengan bangunan utama Keraton. Masjid Sela dulu dibangun atas instruksi langsung dari Hamengkubowono I dengan tujuan untuk mewadahi kegiatan beribadah umat muslim di Keraton. Awalnya berbentuk mushola dengan bangunan utama yang berada tepat di sampingnya, dikhususkan untuk pangeran-pangeran melakukan ibadah. Berbeda dengan pangeran yang menggunakan Masjid Sela, masyarakat Jogja saat itu beribadah di Masjid Gedhe Kauman sebagai pembeda citra masyarakat. Saat ini, pembeda seperti itu sudah tidak ada dan Masjid Sela sudah bisa digunakan oleh masyarakat umum.

Sumber: detikcom/Edzan Raharjo

Arsitek Masjid Sela dikatakan adalah seorang arsitek portugis yang juga mendesain Tamansari pada era Hamengkubuwono I. Ibnu mengatakan, desain Masjid Sela bisa dikatakan selaras dengan desain Tamansari karena kemiripan ornamen dan desain konstruksi detailnya. “Arsitek Masjid Sela ini dikatakan sama dengan arsitek Tamansari, ditinjau dari observasi juga mendukung hal tersebut karena keduanya benar-benar secara esensi mirip,” jelas Ibnu.

Dengan makna batu, nama Sela dipilih sebagai bentuk umpan balik pengambilan nama dengan desain yang digunakan. Hampir seluruh area Masjid Sela menggunakan batu dalam konstruksinya, tidak ada penyerupa bahan lain seperti kayu, kecuali sebagai elemen pendukung. Maka, sesuai dengan makna nama yang digunakan dan pengunaanya pada masa itu, batu yang bermakna kaku, kuat, dan penggunanya yang dikhususkan yaitu pengeran-pangeran Keraton.

Desain Ergonomi dan Penghormatan Agama Islam dan Akulturasi Budaya Arsitek Portugis di Jogja

Masjid Sela pernah direnovasi secara mikro, hanya mengganti lantai keramik dan dihubungkan dengan bangunan utama yang saat ini bisa menampung hingga 180 jamaah. Masjid ini awalnya didesain dengan luasan sebesar 6 meter x 8 meter dan hanya dapat menampung 30 jamaah. Ibnu berpendapat bahwa, desain yang memang diperuntukan secara eksklusif untuk para pangeran Keraton. Jadi, memang layang jika hanya sedikit kuota tampungnya. “Desain yang yang dikhususkan untuk pengeran-pangeran Keraton pada saat itu, jadi wajar jika daya tampung untuk jamaah memang hanya 30,” jelas Ibnu.

Masjid Sela Keraton Jogja desain budaya arsitek Portugis. Arsitek Portugis yang mendesain Masjid ini juga memiliki kepekaan terhadap Islam dan adab Jawa yang kental. Pintu didesain pendek mengharuskan pengguna yang akan masuk harus menunduk untuk menghormati tempat ibadah dan yang seperti diajarkan pada masyarakat Jawa “kulo nuwun”. Lagi, dengan adanya kolam di samping kanan dan kiri masjid juga merupakan bentuk penghormatan sebelum memasuki masjid harus suci. Saat itu, air bersih ini disuplai dari kali Winongo yang jernih, tidak bisa kita bayangkan seperti saat ini.

Bangunan yang sudah berdiri 200 tahun ini saat ini digunakan sebagai tempat ibadah masyarakat sekitar. Sejarahnya yang kurang didengar oleh khalayak umum membuatnya menjadi sesuatu yang berharga untuk dipelajari. Selain dari desain dan fungsinya, Masjid bersejarah ini masih bersinggungan dengan Tamansari dan Masjid Gedhe Kauman. Pihak Keraton dan warga tetap melestarikan fungsi Masjid ini. Seperti halnya menggunakan area masjid saat bulan Ramadhan, termasuk saat Ramadhan 1446 untuk buka bersama hingga terawih.

Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami

Penulis : Ibnu Candra Hakim

Editor : Sanditha Setya Wisaksanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Jogja Konstruksi-Rumah Sempit Terasa Nyaman Gratis Konsultasi dan Survey +62 813-8453-4855