Masih Ditemui Pagar Runcing dan Beling Modern ini Nostalgia Keamanan
jogjakonstruksi.com – Keamanan era modern pagar runcing dan beling apakah masih relevan. Zaman terus berkembang dan pendekatan keamanan telah mengalami banyak transformasi, tembok dengan ujung runcing dan pecahan beling di atasnya masih sering dijumpai di berbagai pemukiman warga. Keberadaan sistem keamanan tradisional ini memunculkan pertanyaan tentang efektivitas, keamanan, dan relevansinya. Tantangan yang muncul di tengah tuntutan urban yang semakin kompleks serta standar keselamatan yang terus diperbarui.
Penggunaan beling dan ujung runcing pada pagar besi dan tembok rumah dulunya dianggap sebagai solusi murah untuk mencegah kejahatan. Dimaksud seperti pencurian atau perampokan yang kerap terjadi di era tahun 90an dan 2000an awal. Pecahan kaca yang ditanam di atas tembok dipercaya dapat menghalangi upaya seseorang untuk memanjat masuk. Namun dalam konteks saat ini, pendekatan metode tersebut dinilai mulai ketinggalan zaman. Metode ini menimbulkan banyak persoalan, mulai dari estetika arsitektural, aspek keselamatan umum, hingga potensi pelanggaran hukum.
Pagar Runcing dan Beling Masih Jadi Andalan Warga Demi Tuai Predikat Keamanan
Beberapa pakar arsitektur, tata kota, dan keselamatan publik menyebutkan bahwa keberadaan tembok dengan pecahan beling dan pagar besi dengan ujung runcing berpotensi membahayakan. Konteks luas tidak hanya calon pelaku kriminal, tetapi juga warga biasa, termasuk anak-anak yang bermain di sekitar lokasi. Lebih jauh juga membahayakan petugas yang mengharuskan melewati dinding atau pagar itu saat sedang bertugas. Dalam beberapa kasus, pemilik rumah justru bisa berhadapan dengan tuntutan hukum pidana. Bahkan jika seseorang terluka akibat elemen berbahaya itu, meskipun terjadi di area properti pribadi ataupun pemilik tetap akan berhadapan dengan hukum.

Di sisi lain, sebagian warga masih kekeh mempertahankan model keamanan ini dengan alasan keterbatasan ekonomi. Pun juga, dengan ketidakpercayaan pada sistem keamanan modern seperti CCTV atau alarm otomatis yang membutuhkan biaya dan keahlian teknis khusus. Tembok dengan beling dan pagar runcing dianggap sebagai solusi praktis yang tak memerlukan perawatan khusus. Lalu, serta telah terbukti menimbulkan efek jera pada era lama yang mereka percayai.
Namun, Herat sebagai jurnalis senior berpendapat lain. Pagar besi runcing dan dinding beling sudah seperti budaya citra keamanan sebuah hunian dalam arti penenang hati. Juga menjadi simbol kerejaan lokal seperti menggunakan tombak pada ujung pagar besi. “Mereka sadar akan keamanan modern tapi, juga mempertahankan budaya sosial juga citra keamanan keraton seperti menggunakan pagar besi menyerupai tombak,” jelas Herat.
Peran Pemerintah Lagi-Lagi Jadi Aspek Penting Ubah Kesadaran Publik
Namun, seiring dengan peningkatan kesadaran akan pentingnya menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan memanusiakan manusia, banyak pemerintah daerah mulai mempertimbangkan regulasi baru. Regulasi yang melarang penggunaan elemen berbahaya seperti pecahan kaca di tembok di bagian rumah dan elemen rumah. Beberapa kota besar bahkan telah mengimbau warga untuk beralih ke metode pengamanan yang lebih ramah lingkungan. Tidak hanya ramah lingkungan tapi juga tidak membahayakan publik, seperti penggunaan tanaman berduri, atau teknologi keamanan pintar.
Keamanan era modern pagar runcing dan beling apakah masih relevan. Ke depannya, tantangan terbesar adalah bagaimana menyelaraskan kebutuhan akan keamanan dengan prinsip keamanan universal. Hak atas ruang hidup yang aman bagi semua pengguna ruang juga perlu. Sementara itu, diperlukan upaya edukasi dan pendampingan publik kepada masyarakat agar transisi ini bisa berjalan lancar. Penerapan metode konvensional menuju sistem yang lebih modern dan aman bisa berjalan tanpa menimbulkan ketimpangan atau keresahan sosial. Juga, mendidik dan menyelaraskan masyarakat agar terbiasa dengan adaptasi teknologi terbaru juga melingkupi keamanan.
Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami
Penulis : Ibnu Candra Hakim
Editor : Sanditha Setya Wisaksanti


