jogjakonstruksi.com – Grand de Djokja kembali wajah baru usung desain cagar budaya. Setelah melalui proses renovasi panjang dan perhati desain konsep warisan sejarah, Grand de Djokja akhirnya membuka kembali pintunya di Malioboro, Jogja.
Desain baru dengan identitas yang lebih kokoh sebagai hotel di Jogja dengan menyusung konsep cagar budaya. Renovasi yang dilakukan secara menyeluruh ini tak hanya meningkatkan fasilitas dan kualitas hotel. Namun, juga pada pelestarian nilai arsitektur asli dengan memperkuat akar sejarah dan kultur Jawa yang melekat pada bangunan legendaris ini.
Grand Hotel de Djokja Status Cagar Budaya di Jogja
Hotel yang berdiri sejak tahun 1908 ini memiliki jejak sejarah panjang. Bahkan, pernah menjadi markas Jenderal Soedirman dan telah berganti nama beberapa kali, mulai dari Grand Hotel de Djokja, Hotel Asahi, hingga Grand Inna Malioboro. Ibnu berpendapat, pemugaran kali ini mengembalikan struktur utama hotel mendekati bentuk aslinya saat pertama kali dirancang. “Ini mungkin jadi sebuah upaya yang dilakukan dengan cermat agar identitas sejarah tetap terjaga,” jelas Ibnu.
Dikutip dari detikcom, manajemen PT Hotel Indonesia Natour (HIN) menegaskan bahwa renovasi ini bukan sekadar pembaruan interior dan eksterior. Pun, semangat jaga tradisi dan nilai budaya Yogyakarta. Pertemuan dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan agar renovasi dilakukan dengan sangat teliti, mengingat status hotel sebagai cagar budaya di Jogja.
Desain Arsitektur Lawas Sejarah Padu di Jogja
Desain baru Grand de Djokja mengedepankan elemen arsitektur lawas seperti kanopi, gerbang, dan detail bangunan lain. Semua dikembalikan ke bentuk aslinya, sesuai blueprint hotel yang ada saat awal. Interior hotel pun dirancang mumpuni, tetapi tetap mengusung nuansa Jawa khas Jogja. Ini terlihat dari setiap sudut, mulai lobi hingga kamar yang mengusung desain pada awalnya.
Salah satu daya tarik utama hotel ini adalah kamar heritage, termasuk “Sudirman Suite” atau kamar yang konon pernah digunakan oleh Jenderal Soedirman. Di mana, benda-benda bersejarah dan perabotan klasik pun berusaha dipertahankan atau direplika agar nuansa sejarahnya terasa nyata bagi para tamu.
Renovasi hotel juga fokus pada infrastruktur modern dengan sistem MEP (mechanical, electrical, plumbing) serta ditingkatkan menjadi bintang lima. Dengan standar baru ini, Grand de Djokja juga menargetkan segmen tamu yang mencari pengalaman menginap mewah sekaligus bernilai sejarah di Jogja.
Grand de Djokja Siap Napak ke Babak Baru
Grand de Djokja kembali wajah baru usung desain cagar budaya. Pengalaman menginap di hotel heritage ikonik Malioboro, dengan peningkatan fasilitas juga diarahkan untuk mendukung kegiatan MICE (Meetings, Incentives, Conventions and Exhibitions). Tentunya ini sejalan dengan pertumbuhan pariwisata di Yogyakarta.
Dengan selesainya tahap akhir renovasi, Grand de Djokja siap menapak ke babak baru sebagai hotel bintang lima dengan usungan warisan budaya. Menyatukan tradisi sejarah dengan pelayanan modern apalagi berada di kawasan wisatawan di Jalan Malioboro. Kita berspekulasi, hari peluncuran soft opening pun sangat dinantikan oleh masyarakat Jogja dan para wisatawan yang menikmati pesona Malioboro.
Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami
Penulis : Ibnu Candra Hakim
Editor : Haqqina Jasmine Rahmatika









