jogjakonstruksi.com – Presiden Prabowo tegaskan gentengisasi apa maksudnya. Program gentengisasi bertujuan untuk mengganti atap rumah berbahan asbes dan material tidak layak dengan genteng yang dinilai lebih aman dan nyaman.
Presiden menyebut, penggunaan asbes dan bahan atap tipis lainnya juga tidak sesuai dengan standar rumah sehat serta berisiko untuk masyarakat. Konsep gentengisasi ini diproyeksikan bisa jadi kebijakan peningkatan kualitas konstruksi rumah rakyat secara nasional.
Presiden Prabowo Tekankan Penggunaan Material Bangunan Layak dan Berkualitas
Presiden menekankan bahwa rumah yang layak tidak hanya diukur dari kepemilikan bangunan semata, tetapi juga dari kualitas material yang digunakan. Misalnya atap, sebagai pelindung atas dari panas, hujan, dan gaya angin, punya peran vital keselamatan dan kenyamanan pengguna. Oleh karena itu, penggunaan genteng dinilai lebih mencerminkan standar sustainability dibandingkan material murah yang gampang rusak.
Asbes, sebagai contoh, yang selama ini banyak digunakan karena harga relatif murah dan pemasangan yang praktis, ternyata punya risiko kesehatan. Material ini apabila seratnya terhirup dalam jangka panjang akan menimbulkan kesehatan pada penghuni terutama anak-anak terkait respirasi. Lagi, lembaran atap metal tipis seperti seng kualitasnya rendah atau bahan campurnya yang rapuh dinilai tidak tahan terhadap perubahan cuaca dewasa ini. Hujan lebat dan angin kencang, material tersebut lebih mudah lepas dan bocor. Ini tentunya membahayakan penghuni rumah dan juga fungsi rumah yang aman saat ada perubahan cuaca mendadak. Presiden menganggap praktik penggunaan material seperti itu harus mulai ditinggalkan demi keselamatan jangka panjang rumah di Indonesia.
Kebijakan Gentengisasi Solusi Inovatif bagi Perumahan Nasional
Gentengisasi diproyeksikan jadi bagian dari kebijakan peningkatan kualitas konstruksi perumahan rakyat lingkup nasional. Teknisnya, penerapan genteng ini sebagai standar memerlukan dukungan sistem konstruksi yang memadai. Pendukung teorema mulai dari sudut kemiringan atap, hingga rangka penopang yang kuat dan juga tahan lama. Misalnya genteng tanah liat, genteng beton, maupun genteng keramik, memiliki bobot lebih berat dibanding asbes sehingga struktur rangka baik kayu maupun baja ringan perlu dirancang dengan perhitungan beban yang pas. Lebih jauh, gentengisasi bukan sekadar mengganti tutup atap, tapi juga memperbaiki keseluruhan sistem struktur bagian atas bangunan juga.
Dalam perspektif konstruksi, gentengisasi juga memiliki dimensi sosial dan ekonomi. Dari sisi sosial, peningkatan kualitas atap rumah berdampak langsung pada kesehatan pengguna, dalam bentuk meminimalkan risiko material berbahaya bagai kesehatan. Rumah dengan atap genteng umumnya punya sirkulasi udara yang lebih baik serta suhu ruangan yang lebih stabil dibanding atap logam tipis. Lagi, dari segi ekonomi, kebijakan ini berpotensi menggerakkan industri genteng lokal, termasuk produsen genteng tanah liat di berbagai daerah yang selama ini menjadi bagian dari usaha kecil dan menengah UMKM.
Presiden juga menekankan bahwa gentengisasi bukan hanya simbol fisik. Lebih jauh, juga simbol peningkatan martabat rumah rakyat. Rumah dengan atap genteng dianggap lebih kokoh, rapi, dan mencerminkan standar pembangunan modern yang memperhatikan keselamatan jangka panjang. Dari sisi pembangunan nasional, kebijakan ini sejalan dengan visi peningkatan kualitas hunian rakyat yang tidak lagi berorientasi pada biaya murah semata, melainkan pada durabilitas, keamanan, dan sustainability.
Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami
Penulis : Ibnu Candra Hakim
Editor : Haqqina Jasmine Rahmatika




