jogjakonstruksi.com – Studi baru emisi konstruksi bisa dua kali lipat pada 2050 Indonesia terdampak. Studi jurnal internasional terbaru mengungkapkan bahwa emisi karbon dari sektor konstruksi global terancam meningkat hingga dua kali lipat pada tahun 2050.
Jika tidak ada perubahan kebijakan dan teknologi, peningkatan jadi dua kali lipat ini di depan mata. Peningkatan emisi tersebut dipicu oleh pertumbuhan pembangunan infrastruktur, penggunaan material dengan emisi tinggi, serta tingginya ketergantungan pada energi fosil. Indonesia, sebagai negara berkembang dengan laju pembangunan pesat diprediksi akan ikut terdampak. Dampak signifikan, baik dari sisi lingkungan maupun sosial ekonomi yang ada. Lagi, di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, ancaman emisi konstruksi berpotensi memperburuk kualitas lingkungan, mempercepat krisis iklim lokal, dan menekan sektor pariwisata serta permukiman budaya Kota Jogja.
Studi Penyumbang Emisi Karbon Sektor Konstruksi
Studi terbaru menegaskan bahwa sektor konstruksi menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar secara global. Dalam studi tersebut dipaparkan bahwa tanpa intervensi serius, emisi dari pembangunan gedung, infrastruktur, serta produksi material seperti semen dan baja dapat melonjak hingga dua kali lipat pada 2050. Kondisi ini dinilai berbahaya karena sektor konstruksi saat ini saja sudah menyumbang lebih dari sepertiga total emisi karbon dunia sehingga lonjakan tersebut akan semakin menyulitkan upaya pencapaian target net zero emission cita-cita global.
Peningkatan emisi karbon sektor konstruksi dipicu oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Pertumbuhan penduduk kita mendorong kebutuhan akan perumahan, jalan, dan fasilitas publik lainnya. Lagi, sementara teknologi konstruksi yang digunakan masih bergantung pada material beremisi tinggi saat produksi. Misalnya, produksi semen membutuhkan energi besar dan menghasilkan emisi karbon dalam jumlah jamak. Selain itu, penggunaan energi fosil dalam proses pembangunan serta minimnya penerapan desain bangunan ramah lingkungan turut memperparah kontribusi sektor ini terhadap perubahan iklim dunia.
Indonesia Jogja dan Hubungannya dengan Hasil Studi dan Emisi Konstruksi
Saat ini, Indonesia sebagai negara berkembang dengan agenda pembangunan infrastruktur yang masif diprediksi akan menghadapi dampaknya. Dampak serius dari tren peningkatan emisi konstruksi yang masif dan diprediksi akan menjadi dua kali lipat pada 2050. Proyek besar seperti pembangunan jalan tol, perumahan subsidi, dan fasilitas publik di berbagai daerah berpotensi meningkatkan jejak karbon nasional. Jika tidak diimbangi dengan kebijakan konstruksi hijau, Indonesia tidak hanya berisiko gagal mencapai komitmen pengurangan emisi. Dampak lanjutan yang berbahaya berupa peningkatan suhu, cuaca ekstrem, dan tekanan kesehatan masyarakat.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, dampak isu emisi konstruksi dinilai memiliki karakteristik yang lebih sensitif. Jogja yang dikenal sebagai Kota Budaya, pendidikan, dan pariwisata menghadapi tantangan serius. Tantangan yang dikarenakan sebab akibat meningkatnya pembangunan hotel, kawasan hunian, dan infrastruktur pendukung pariwisata. Emisi konstruksi berpotensi memperburuk kualitas udara dan meningkatkan suhu perkotaan (urban heat island). Jika tidak dikendalikan, kondisi ini dapat menurunkan daya tarik wisata, mengganggu kenyamanan warga, serta memperbesar risiko bencana iklim seperti banjir dan gelombang panas di wilayah perkotaan DIY.
Banyak pengamat lingkungan menilai bahwa temuan studi jurnal internasional ini seharusnya menjadi peringatan bagi pemerintah pusat, termasuk di Jogja, untuk segera mendorong penerapan konstruksi berkelanjutan. Penggunaan material rendah karbon, material recycle, desain bangunan hemat energi, serta regulasi ketat bukan lagi opsi. Ini adalah vital terhadap pembangunan dan menjadi langkah mendesak agar sektor konstruksi tidak menjadi ancaman jangka panjang bagi lingkungan dan masa depan kota.
Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami
Penulis : Ibnu Candra Hakim
Editor : Haqqina Jasmine Rahmatika




