jogjakonstruksi.com – Runtuh banyak korban buah konstruksi serampangan Ponpes Al Khoziny. Kegagalan struktur kembali menjadi sorotan, setelah sebuah proyek bangunan bertingkat di kawasan perkotaan mengalami kerusakan serius usai penngecoran lantai empat. Menurut pakar struktur bangunan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Mudji, insiden ini mencerminkan praktik konstruksi ugal-ugalan yang mengabaikan kaidah rekayasa teknik sipil dan standar bangunan nasional.
Perencanaan Kurang Matang Al Khoziny Bangunan Tumbuh
Bangunan tersebut awalnya hanya dirancang sebagai gedung dua lantai. Namun, tanpa perencanaan ulang dan kajian struktur yang memadai, pemilik melanjutkan pembangunan hingga lantai tiga dan empat. Akibatnya, beban tambahan yang tidak terhitung sejak tahap awal perencanaan menyebabkan ketidakseimbangan struktur dan potensi runtuhnya sebagian bangunan. Fenomena ini dikenal sebagai permasalahan bangunan tumbuh. Di mana, bangunan dikembangkan bertahap tanpa memperhatikan kapasitas struktur awal.
Prof. Mudji menegaskan bahwa hubungan antar lantai 1, 2, 3, dan 4 harus terintegrasi dengan baik. Kegagalan joint, terutama pada sambungan kolom dan balok menjadi titik lemah utama. “Sambungan yang tidak dirancang ulang akan menyebabkan transfer beban tidak optimal. Sambungan titik yang lemah dapat berakibat fatal saat terjadi beban dinamis seperti pengecoran atau aktivitas pengguna,” jelas Prof. Mudji.
Hubungan Lemah Struktur Lahirkan Banyak Korban Al Khoziny
Selain itu, pun ditemukan adanya impact joint pada hubungan antara balok dan kolom yang tidak tertanam dengan kuat. Kondisi ini membuat elemen struktur mudah bergeser dan terlepas, terutama saat beban sementara diberikan selama proses konstruksi. Aktivitas pengguna, termasuk lalu-lalang pekerja dan penggunaan alat berat di area pengecoran turut memperparah tekanan dinamis di elemen struktur tersebut.
Dari hasil investigasi awal, model struktur bangunan menunjukkan adanya penambahan balok kantilever tanpa perhitungan mendetail terhadap beban geser. Balok kantilever memikul gaya momen lentur (bending moment) yang signifikan dan tanpa penyangga atau sambungan yang kuat akan mengalami deformasi atau retakan. Apalagi, jarak antar penyangga, getaran saat pengecoran, dan suara retakan yang terdengar selama proses menunjukkan indikasi kegagalan awal struktur.
Penggunaan Alat Konstruksi Tidak Sesuai Standar dan Perencanaan Matang
Lagi, kondisi lapangan juga memperlihatkan penggunaan bambu yang tidak sesuai standar. Beberapa penyangga sementara bahkan tidak memiliki pondasi kuat sehingga saat dilakukan pengecoran bertingkat dari lantai 3, 2, hingga 1, timbul dampak vertikal yang signifikan. Ironisnya, insiden ini terjadi saat waktu salat Ashar, di mana sebagian pekerja beristirahat dan tidak menyadari munculnya getaran serta suara patahan struktur yang terjadi.
Runtuh banyak korban buah konstruksi serampangan Ponpes Al Khoziny. Kasus ini menjadi peringatan keras bagi para pelaku konstruksi agar tidak melakukan praktik konstruksi sembarangan. Pemerintah daerah diimbau untuk memperketat pengawasan, memastikan setiap bangunan mengikuti perencanaan teknis sesuai SNI, dan mendapatkan izin legal sebelum melakukan perubahan desain atau penambahan lantai. “Kegagalan struktur bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga moral dan tanggung jawab hukum,” pungkas Prof. Mudji.
Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami
Penulis : Ibnu Candra Hakim
Editor : Haqqina Jasmine Rahmatika




