Jogja City Mall Penuh Interior Budaya Jawa
jogjakonstruksi.com – Jogja City Mall pusat belanja penuh interior budaya jawa. JCM singkatan dari Jogja City Mall berlokasikan di Jalan Magelang km 5.8 Sleman. Selesai dibangun pada tahun 2013 dan diresmikan langsung oleh Sultan Hamengku Buwono X. Pemiliknya yang asli Jogja, diharapkan menjadi perubahan sentra belanja di DIY.
Hubungi Jogja Konstruksi / Doma Living House
JCM terletak di Kecamatan Mlati, Jalan Magelang km 5.8 berdekatan dengan flyover Jombor yang berada di bagian utaranya. JCM menjadi salah satu di antara sentra belanja yang terletak di dalam ringroad Jogja. Lokasinya yang strategis tidak membuat JCM menjadi kekurangan lahan. Lagi, JCM bersebelahan langsung dengan Sahid Rich Hotel. Dengan luasan 18.975 m² dan total 101.531 m² dengan tujuh lantai, di antaranya L2, L1, UG, GF, LGM, P1, dan P2.

Lahan parkir JCM memiliki daya tampung yang terbilang besar untuk mall di wilayah Jogja dengan kapasitas maksimum kendaraan roda empat sekitar 1200 dan kendaraan roda dua 1300. Saat artikel ini dibuat rerata pengunjung JCM per harinya sekitar 5000 orang. Pengunjung yang konsisten ini didukung oleh tenant-tenant yang berkualias dan event-event yang hadir tidak harinya mulai dari event swasta hingga event resmi milik pemerintah daerah.
JCM didesain dengan mencampurkan arsitektur Romawi dan Jawa. Pada fasad, sangat terasa bila mall ini sangat kental dengan kesan Romawi yang dibawa. Pilar yang besar dan berjumlah tujuh belas ini sangat pas dan sesuai berada di fasad, menambah kesan megah dan mewah. Di sisi lain interior pada JCM mengusung interior jawa tepatnya kekratonan Yogyakarta.
JCM mengusung interior, dengan budaya Jawa Yogyakarta. Di mana menggunakan tegel-tegel kunci dan railing khas kekratonan Yogyakarta. Perpaduan desain ini sangat apik dan proporsional. Fasad dengan arsitektural romawi yang didominan abu-abu dan interior jawa yang mengombinasikan warna abu-abu hijau khas keraton sangat pas.
Desain ini sangat pas untuk warga Jogja yang kental akan masyarakat yang menjunjung tinggi budaya lokal, “Perpaduan modernisasi tapi tidak meninggalkan budaya lokal, bagus!,” jelas Herat, jurnalis senior Yogyakarta saat kami wawancarai.
Penulis: Ibnu Candra Hakim
Editor: Sanditha Setya Wisaksanti




