Wallfoam 3D kapan digunakan?
Jogja Konstruksi, Wallfoam 3D Kapan digunakan? Dalam industri konstruksi di Indonesia, termasuk di Jogja, wallfoam 3D atau mungkin wallpaper dinding yang sering teman-teman dengar, semakin populer sebagai alternatif pelapis dinding yang praktis dan estetis. Wallfoam adalah material dekoratif berbahan busa PVC atau PE dengan berbagai motif, seperti tekstur bata, kayu, atau pola 3D. Material ini sering digunakan untuk meningkatkan tampilan interior tanpa perlu renovasi besar.
Tim Doma berpendapat, wallfoam sangat cocok digunakan di rumah-rumah modern yang mengutamakan kepraktisan dan estetika. Meskipun tidak sekuat material pelapis dinding konvensional seperti plester, aci, atau cat tembok, wallfoam menjadi solusi yang cepat dan terjangkau untuk mempercantik ruangan. Namun, pemakaiannya lebih direkomendasikan untuk area indoor dengan suhu stabil, karena paparan panas berlebih bisa menyebabkan perekatnya melemah.
Hubungi Jogja Konstruksi / Doma Living House

Wallfoam 3D di mata kontrsaktor Jogja memiliki beragam pendapat. Kontraktor dan tenaga ahli konstruksi merekomendasikan wallfoam untuk hunian modern, kafe, kantor, hingga ruang komersial. Ini karena memberikan tampilan menarik dengan biaya yang lebih terjangkau dibandingkan material konvensional. Selain itu, wallfoam memiliki keunggulan seperti tahan air, mudah dibersihkan, serta mampu meredam suara. Menjadikannya solusi yang cocok untuk lingkungan perkotaan di Jogja. Namun, Ibnu menambahkan “Pemasangan wallfoam sebaiknya di area indoor dengan suhu stabil agar daya rekatnya optimal untuk jangka panjang.”

Menjawab Wallfoam 3D Kapan digunakan?
Dengan berbagai keunggulannya, wallfoam semakin diminati dalam industri konstruksi Indonesia sebagai alternatif dekorasi dinding yang ekonomis dan mudah diaplikasikan. Erik sebagai koordinator pelaksana Doma menyampaikan “Memang praktis, tahan air dan sebagainya, namun tetap masih jarang yang pakai.” Tim Doma yang lain, Ibnu menambahakan “Mungkin belum terdistribusi luas informasinya, namun masyarakat saat ini masih lebih suka yang konvensional.”
Penulis : Ibnu Candra Hakim
Editor : Sanditha Setya Wisaksanti




