jogjakonstruksi.com – Biopori jumbo di Jogja solusi sampah organik jaga lingkungan. Kota Yogyakarta kini memiliki terobosan baru dalam pengelolaan sampah organik melalui penerapan biopori jumbo yang ramah lingkungan. Program ini digagas sebagai upaya untuk mengurangi timbunan sampah rumah tangga yang terus meningkat setiap tahunnya.
Kehadiran biopori jumbo diharapkan mampu mempercepat proses penguraian sampah organik sekaligus menyuburkan tanah. Pemerintah kota bersama komunitas lingkungan bekerja sama dalam sosialisasi dan penerapan teknologi sederhana ini di kawasan permukiman. Warga pun menyambut positif karena biopori jumbo terbukti mudah dibuat dan bermanfaat ganda bagi lingkungan sekitar.
Inovasi yang Lahir dari Menumpuknya Sampah Organik
Inovasi muncul dari keresahan atas menumpuknya sampah di TPS yang selama ini kerap jadi masalah utama tata kelola sampah kota. Biopori jumbo dirancang dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan biopori biasa. Di mana, mampu menampung lebih banyak sampah organik sebelum akhirnya terurai secara alami dalam tanah. Dengan metode ini, warga tidak hanya didorong untuk membuang sampah dengan benar. Lebih jauh, warga juga dilibatkan dalam peluang untuk merawat kelestarian lingkungan secara praktis.
Data dari Dinas Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa volume sampah di Yogyakarta terus naik seiring pertumbuhan jumlah penduduk. Sampah organik mendominasi hingga 60 persen dari total timbunan harian sehingga solusi yang fokus pada pengelolaannya menjadi kebutuhan mendesak. Dengan adanya biopori jumbo, diharapkan terjadi pemisahan yang lebih efektif antara sampah organik dan anorganik sehingga beban tempat pembuangan akhir dapat berkurang secara signifikan.
Biopori Jumbo Diameter Besar Muat Lebih Banyak
Lubang biopori jumbo dibuat dengan diameter 80 cm agar memiliki rongga yang cukup besar sehingga memungkinkan mikroorganisme tanah bekerja lebih optimal dalam mengurai sisa makanan, daun, maupun limbah dapur. Erik menjelaskan, biopori jumbo dengan diameter 80 cm, tinggi tiap buisnya adalah 45 cm sehingga untuk kedalaman 225 cm membutuhkan total 5 buis. Lalu, di bawah diberi ijuk dengan tinggi 25 cm hingga total tinggi yang dibutuhkan adalah 250 cm, sedangkan penutup diatasnya adalah gril besi. “Pakai buis 80 cm dan ditumpuk lima buah, lalu dibawah diberi ijuk 25 cm hingga totalnya 250 cm,” jelas Erik.
Hasil penguraian tersebut nantinya akan menghasilkan kompos alami yang bisa digunakan sebagai pupuk untuk tanaman di pekarangan rumah. Dengan cara ini, siklus sampah organik dapat ditutup secara berkelanjutan. Di mana dari dapur kembali ke tanah, lalu memberi manfaat baru berupa kesuburan lahan.
Berbagai pelatihan penggunaan biopori jumbo telah digelar di tingkat kampung, RT, hingga sekolah, agar masyarakat dapat memahami penerapan dan manfaatnya. Kolaborasi ini juga melibatkan kontraktor lokal yang membantu dalam pembuatan, panduan teknis, serta monitoring efektivitas penggunaan biopori jumbo. Pemerintah kota menegaskan bahwa upaya ini adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk menekan produksi sampah sekaligus menumbuhkan budaya hidup hijau di tengah masyarakat perkotaan.
Warga Sambut Positif Biopori Jumbo
Biopori jumbo di Jogja solusi sampah organik jaga lingkungan. Selain membantu mengurangi sampah, mereka juga merasakan manfaat tambahan berupa tanah yang lebih subur, berkurangnya genangan air saat hujan, hingga lingkungan yang lebih bersih. Antusiasme ini terlihat dari semakin banyaknya permintaan pelatihan dan inisiatif warga yang berbondong-bondong membuat biopori jumbo secara mandiri. Dukungan positif ini menjadi tanda bahwa kesadaran kolektif masyarakat terhadap pengelolaan sampah organik mulai tumbuh dengan baik di Yogyakarta.
Survey, Konsultasi, Bahkan Desain Gratis. Hubungi Whatsapp Kami
Penulis : Ibnu Candra Hakim
Editor : Haqqina Jasmine Rahmatika









